0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Doa Memule Pak Puh di Hari Ke-3

Doa memule bertujuan mendoakan arwah orang Katolik yang sudah meninggal agar diperkenankan beristirahat dalam kedamaian abadi di Rumah Bapa di Surga. Di samping itu, juga mendoakan keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan dan penghiburan sehingga tetap semangat melanjutkan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Doa memule ini juga bertujuan agar mereka yang sudah meninggal tetap kita kenang. Bukan untuk larut dalam kesedihan tetapi agar kita dapat meneladani warisan kebaikan yang ditinggalkan dan melanjutkan harapannya yang belum dapat diwujudkan. Antara kita yang masih dalam peziarahan hidup dan mereka yang telah meninggal tetap ada hubungan. Tradisi atau kebiasaan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat kita sebagai orang Timur yang hidup di Indonesia dengan berbagai suku dan latar belakang budaya, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat Barat.

Pada hari Kamis Pahing tanggal 6 November 2025, umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir diundang keluarga Maria Magdalena Supraptiwi untuk hadir dalam doa memule hari ke-3 berpulangnya Bapak Antonius Triyatno. Tiga puluh empat (34) umat bersatu dalam doa memule yang dipimpin oleh prodiakon Theresia Yuliastutie. Bacaan Injil diambil dari Yohanes 11: 38-44 tentang Lazarus Dibangkitkan oleh Yesus. Dari perikop Injil Yohanes kita belajar banyak hal tentang kematian, kebangkitan, dan keselamatan. Hal ini dijanjikan oleh Tuhan Yesus sendiri. Hanya Yesus yang berani berjanji kepada anak-anak-Nya, anak-anak yang sangat dikasihi-Nya. Demikian halnya kepada Antonius Triyatno yang telah 3 hari dipanggil menghadap Tuhan, kita umat LGAK dan keluarga yang ditinggalkan percaya bahwa almarhum pun akan diselamatkan dan hidup kekal bersama para kudus di Surga. Di akhir masa hidupnya, di dalam keterbatasan kesehatannya almarhum rajin mengikuti misa pagi. Almarhum juga berusaha hadir dalam peziarahan bersama umat dalam doa Rosario dan hadir dalam pendalaman iman. Hal ini kita percaya sebagai Upaya pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Rangkaian doa memule selesai pada pukul delapan lebih seperempat (20.15 WIB). Umat tidak langsung beranjak pulang, tetapi mendengarkan beberapa pengumuman lingkungan yang disampaikan oleh ketua lingkungan sambil menikmati hidangan yang disiapkan keluarga. Canda tawa di antara umat mewarnai suasana malam itu. Ketika umat pulang, suasana guyub rukun dalam kebersamaan sangat terasa dan akan dibawa pulang untuk dibagikan kepada anggota keluarga di rumah.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *