0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Hidup adalah Pilihan

Udara malam pada hari Kamis di penghujung bulan Juli 2025 terasa sejuk, apalagi ditingkahi angin yang bertiup sepoi-sepoi. Cuaca sejuk berangin tidak menyurutkan dua puluh (20) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir untuk mendengarkan firman dan berdoa bersama. FL. Budi Sujatmiko ditemani sang istri Yokebeth Siti Sriyanti sudah menunggu di depan pintu, menyambut umat yang datang ke rumahnya. Sambil menunggu yang lain, Ignatia Gondowati mengawalinya dengan memberikan beberapa informasi terkait rencana kegiatan lingkungan. Antara lain tentang rencana mengunjungi umat lingkungan yang baru pulang dari rumah sakit, rencana ziarek ibu-ibu lingkungan, dan rencana misa lingkungan dalam rangka pesta nama lingkungan.

Sepuluh menit setelah waktu yang disepakati, rangkaian pendalaman iman lingkungan dimulai. Tepatnya pukul tujuh lebih sepuluh menit atau pukul 19.10 WIB. Diawali dengan menyanyikan lagu ‘Bersoraklah, Umat Kristus’ dari Puji Syukur nomor 642, dirangkai dengan membuat tanda kemenangan yang dipandu oleh prodiakon Theresia Yuliastutie. Bertepatan dengan peringatan Santo Ignatius Loyola, umat diajak meneladan kesetiaannya menjadi tentara Kristus, setelah malang melintang berjuang membela negara sebagai tentara. Dalam ketidakberdayaan kedua kakinya akibat terkena kanon, dia membaca buku kisah orang kudus yang membuatnya mengalami proses pertobatan. Sebagai pengantar Injil, umat yang hadir bersama-sama mengidungkan lagu Yesus Tlah Bersabda dari Puji Syukur nomor 365. Bacaan Injil Matius 13: 47-53 mengisahkan tentang ikan yang baik dikumpulkan di dalam pasu, yang buruk dibuang. Perikop yang mengajak kita untuk terus-menerus memperbaiki diri dan bertobat agar termasuk ikan yang dikumpulkan di dalam pasu. Menanggapi kisah pertobatan Ignatius dari Loyola dan Injil Matius, beberapa umat berkesempatan mensharingkan pengalaman imannya tentang pertobatan dan Kerajaan Allah. RY Sujadi menyampaikan bahwa, “Hampir setiap hari kita sering jatuh dalam dosa. Meskipun selalu melakukan kesalahan, Tuhan selalu memberi kesempatan untuk kembali kepada-Nya dan memperbaiki diri. Sebagai umat Katolik kita harus hidup dalam pertobatan.” Kesempatan berikutnya, Yokebeth Siti Sriyanti mengungkapkan, “Kerajaan Allah adalah ketika kita selalu ada di hadirat Allah, yaitu hidup yang sesuai dengan kehendak Allah.” Dilanjutkan oleh Lambert Tallulembang yang mengatakan, “Dalam pukat dikumpulkan ikan yang baik. Dalam Injil tersebut manusia diibaratkan ikan, ada yang baik dan ada yang buruk. Di dalam hidup manusia diberi pilihan untuk menjadi baik, benar, dan bertindak sesuai kehendak Allah, dan sebaliknya. Hidup adalah pilihan.” Fransiska Romana Pujiyati menambahkan, “Kita adalah manusia yang rapuh dan sering jatuh dalam dosa. Sebagai umat kristiani kita harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita yang salah. Dengan mengandalkan Roh Kudus, kita mampu memperbaiki diri agar menjadi umat yang makin berkenan kepada-Nya.” Sharing umat ditutup oleh Fl. Budi Sujatmiko yang lebih mempertanyakan, “Setiap kali mengikuti misa di gereja, apakah kita tahu tujuannya untuk apa? Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.” Semua pengalaman iman diharapkan dapat menginspirasi umat lingkungan untuk terus bertumbuh dalam sukacita dan pengharapan. Selanjutnya, semua harapan disatukan dalam doa umat yang diungkapkan secara spontan dan diteguhkan dengan doa yang diajarkan Yesus sendiri.

Rangkaian doa pendalaman iman pun berakhir. Umat yang hadir langsung meluruskan kaki dan berganti posisi duduk agar dapat melanjutkan bincang-bincang antarumat, sambil menikmati teh hangat dan kudapan buatan tuan rumah yang khusus disiapkan untuk umat LGAK. Perbincangan hangat dalam semangat kebersamaan membahas apa saja yang menggembirakan. Sungguh, kegembiraan yang selalu dirasakan karena menyadari Tuhan selalu hadir dalam kebersamaan umat dalam iman.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *