Memule dapat diartikan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakasih atas karunia yang diterima, khususnya atas kebersamaan dengan almarhum yang telah menjadi bagian dari hidupnya, sekaligus sebagai sarana memohon atau berdoa untuk mengharapkan berkat Tuhan untuk melanjutkan kehidupan agar semuanya dapat berjalan dengan baik sampai tiba saatnya nanti. Orang yang sudah meninggal perlu mendapat perhatian yang semestinya dari kita yang masih hidup berkaitan dengan martabat dan kewajiban kita sebagai makhluk sosial beradab yang memiliki hati dan empati terhadap orang lain, walaupun sudah meninggal. Dalam ajaran Katolik ada kewajiban bagi umat-Nya untuk mendoakan arwah agar arwah orang yang sudah meninggal tersebut mendapat pengampunan dan memperoleh hidup abadi di surga, serta memberikan dukungan moral bagi orang-orang terdekatnya yang sedang berduka.

Antonius Triyatno telah tujuh (7) hari dipanggil menghadap Bapa. Keluarga bersama delapan puluhan umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir dan umat dari lingkungan di wilayah Berbah mendoakan almarhum sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan pengharapan akan kebangkitan dengan menyelenggarakan Misa Memule Hari Ke-7. Hal ini dapat menjadi sarana untuk terus mengingat almarhum dan memperdalam iman kita akan kehidupan kekal. Perayaan Ekaristi dilaksanakan pada hari Minggu, 9 November 2025 pukul tujuh malam, dipimpin oleh Romo Jhonan Pinem, OFM. Dalam homili Romo Jhonan Pinem OFM memberikan peneguhan kepada MM Supraptiwi yang telah 42 tahun membangun hidup berkeluarga bersama almarhum. Ada rasa kehilangan, tetapi Tiwi sudah mengikhlaskan kepergiannya. Ibarat wadhah yang tinggal separuh tetapi tetap harus melanjutkan peziarahan hidup, diiringi kepasrahan, penerimaan, dan tetap mengandalkan Tuhan. Romo Jhonan juga menyampaikan, “Dialah jalan kebenaran dan hidup untuk hidup selamanya. Meskipun Dia ditolak, dihina, dan disingkirkan karena mewartakan Kerajaan Allah.” Mengakhiri homilinya Romo Jhonan mengajak kita mempersiapkan diri untuk mengikuti-Nya menuju kediaman-Nya dan kita percaya bahwa waktu Tuhan pasti yang terbaik.

Sejak berpulangnya hingga peringatan hari ke-7 dalam Misa Memule umat LGAK telah membersamai dalam doa memule. Maria Magdalena Supraptiwi, istrinya dan kedua putrinya, Scholastika Astri Meirinawati dan Irene Yosi Agung Kristanti, juga Ignatius Ardi Laksana menantunya, serta Elisabeth Arrasel Laksana dan Irene Arwita Gita Laksana cucunya akan kembali melanjutkan aktivitas rutinnya. Tugas harian sebagai ibu, tugas anak dan menantu sebagai pegawai, dan tugas cucu-cucunya sebagai siswa harus kembali berjalan. Semangat hidup harus kembali dibangun, diiringi harapan bahwa Tuhan akan selalu menguatkan dan menyertai hingga saatnya nanti dapat berkumpul kembali.





