041 St. Bartolomeus Brintikan: Kesejahteraan Sejati Dicapai Melalui Kebersamaan

Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan menyelenggarakan Sarasehan Adven Ketiga pada hari Rabu, 10 Desember 2025 pukul 19.00 WIB bertempat di kediaman Yohanes Sulistyanto, Dusun Brintikan RT.03, Tirtomartani, Kalasan,Sleman. Sarasehan dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan” dipandu oleh prodiakon FX. Risang Baskara dan mendapat partisipasi 19 umat.

Lagu “Fajar Telah Menyingsing” dari Madah Bakti No.325 mengawali sarasehan ini. Setelah membuka dengan tanda salib, pemandu menyampaikan pengantar sarasehan. “Seringkali kita berpikir sejahtera itu hanya materi atau uang. Namun, Gereja mengajak kita melihat lebih dalam. Melalui pertemuan ini, kita diajak menyadari bahwa kesejahteraan sejati dicapai melalui kebersamaan, bukan sendiri-sendiri”, kata Risang mengawali sarasehan. Selanjutnya Doa Pembuka bersama-sama.

Dalam dinamika kelompok, pemandu mengajak umat yang hadir untuk menyebutkan satu kata makna “sejahtera”. Jawaban umat beragam, ada yang menyebut sejahtera dengan nyaman, damai, bahagia, berkecukupan, tercukupi, sukacita, senang, terpenuhi, tenteram, makmur, kebersamaan, sukses, dan kelegaan. Selanjutnya pemandu mengajak umat untuk menjawab pertanyaan : apa yang membuat kesejahteraan di lingkungan, dan jawaban umat juga beragam. Ada yang menjawab sukacita, kebersamaan, kondusif, rukun, damai, guyub, kekompakan, dan dukungan. Dari permainan sederhana ini menunjukkan bahwa : makna sejahtera itu luas, namun dalam iman Katolik, kesejahteraan tidak hanya untuk diri sendiri. Seperti kata Paius Fransiskus, kesejahteraan sejati tidak bisa dicapai jika kita hidup egois. Jawaban yang berbeda-beda dari umat melengkapi satu sama lain. Gereja mengajarkan Bonum Commune (Kesejahteraan Umum), yaitu kondisi dimana semua orang di komunitas bisa berkembang secara utuh, Jadi, menjadi “Gereja yang Menyejahterakan” berarti kita memastikan tetangga kita merasakan kata-kata yang telah disebutkan umat yakni merasa damai, merasa cukup, dan merasa diterima sebagai saudara.

Peneguhan Bacaan Kitab Suci diambilkan dari Injil Matius 11:2-11 dengan point-point penting : Pertama, Yesus menjawab keraguan Yohanes Pembaptis bukan dengan kata-kata manis, tapi dengan fakta. Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan kabar baik bagi orang miskin. Yesus menghadirkan kesejahteraan yang nyata : fisik disembuhkan, dan hati dipulihkan. Point kedua, kita dipanggil untuk meniru Yesus, menjadi Gereja yang menyejahterakan berarti menjadi “katalisator” atau perantara bagi perbaikan kondisi sosial di sekitar kita. Kita tidak hanya sibuk di dalam gereja, tetapi aktif melayani mereka yang sakit, miskin, dan tertindas di lingkungan Bartolomeus ini. Point ketiga, kesejahteraan adalah proses terus menerus yang dibangun lewat kerjasama. Kita diajak menjadi pembangun jembatan, bukan pembangun tembok pemisah. Lingkungan kita akan sejahtera jika kita saling peduli dan berbela rasa.

Setelah peneguhan bacaan kitab suci, pemandu mengajukan dua pertanyaan refleksi : Pertama, dari kata sejahtera yang telah disebutkan tadi, manakah yang paling kurang dirasakan oleh warga di sekitar rumah kita. Kedua, satu tindakan kecil apa yang bisa kita lakukan bersama agar tetangga kita bisa merasakan sedikit sejahtera dalam minggu ini. Ada empat umat yang sharing dalam hal ini, yakni FX. Kristyanto Nugroho, Theresia Ildayati, Theresia Eva Haryanti, dan Clara Henny.

Selanjutnya pemandu mengajak umat untuk bergantian memanjatkan Doa Umat, lalu disatukan dengan Doa Bapa Kami dan Doa Penutup bersama. Lagu “Nafas Iman” dari Madah Bakti No.308 mengakhiri sarasehan ini. Pemandu menutup sarasehan dengan doa berkat dan perutusan. Sambil mendengarkan pengumuman dan informasi yang disampaikan oleh Ketua Lingkungan FX. Kristyanto Nugroho, umat yang hadir dapat menikmati minuman hangat dan makanan ringan yang telah disediakan tuan rumah. Pukul 20.30 WIB umat pun berpamitan satu persatu pulang ke rumah masing-masing dengan membawa damai sejahtera.

Catatan : Foto dikirim oleh Yohanes Sulistyanto dan Bernadeta Apik Dwiyati

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *