Kalasan — Pagi itu Lapangan SMP Kanisius Kalasan terasa berbeda. Sejak pukul 07.00, para lansia Paroki Maria Marganingsih Kalasan sudah berkumpul dengan wajah ceria dan penuh semangat. Bukan sekadar berolahraga, mereka hadir untuk menjaga kesehatan, bersukacita bersama, sekaligus merawat anugerah kehidupan yang Tuhan percayakan.
Kegiatan Senam Lansia Kalasan kali ini berlangsung meriah. Dengan gerakan yang ringan dan menyenangkan, para lansia mengikuti instruktur senam, Kak Inul, yang tampil begitu menggemaskan, lucu, dan enerjik. Gaya instruksinya yang penuh canda berhasil membuat suasana semakin hidup. Tawa dan senyum pun menghiasi lapangan.
Gerakan demi gerakan diikuti dengan antusias. Ada yang bergerak lincah, ada pula yang mengikuti dengan kemampuan masing-masing. Namun, semuanya memiliki semangat yang sama: tetap sehat, tetap bahagia, dan tetap produktif di usia lanjut.

Senam berakhir sekitar pukul 08.00. Namun, kegiatan belum selesai. Para lansia kemudian melanjutkan kegiatan dengan penyuluhan kesehatan bertema “Lansia dan Diabetes: Pencegahan dan Tindak Lanjut”.
Mengenal Diabetes, Jangan Menunggu Sampai Terlambat
Penyuluhan kesehatan menghadirkan dr. Maria Devita Kumalasari dan Chatarina Henny, S.Kep., dari RS Panti Rini. Keduanya memberikan edukasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari para lansia.
Diabetes melitus atau diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) dalam darah yang terlalu tinggi. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup atau tidak dapat menggunakan insulin secara efektif. Pada diabetes tipe 2, berbagai faktor seperti keturunan, pola makan yang kurang sehat, berat badan berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko.

Diabetes sering kali berkembang secara perlahan. Karena itu, seseorang dapat saja merasa baik-baik saja meskipun kadar gula darahnya sudah tinggi. Inilah pentingnya skrining dan pemeriksaan kesehatan secara berkala, khususnya bagi lansia dan mereka yang memiliki faktor risiko.
Jika tidak dikendalikan, diabetes dapat menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain gangguan penglihatan, penyakit ginjal, penyakit jantung, stroke, kerusakan saraf, hingga masalah pada kaki.

Lansia dan Diabetes: Apa yang Bisa Dilakukan?
Pencegahan dan pengendalian diabetes bukan sesuatu yang harus dilakukan dengan cara yang rumit. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat besar.
Pertama, tetap aktif bergerak.
Senam lansia seperti yang dilakukan bersama di Lapangan SMP Kanisius Kalasan merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang baik. Aktivitas perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing lansia. WHO merekomendasikan aktivitas fisik secara teratur; untuk orang dewasa, sekitar 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu dapat membantu mencegah atau menunda diabetes tipe 2. Pada lansia, latihan keseimbangan dan penguatan otot juga dapat disesuaikan dengan kemampuan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Kedua, memperhatikan pola makan.
Lansia perlu membiasakan makanan bergizi seimbang, memperbanyak pilihan makanan yang minim proses, serta membatasi konsumsi gula berlebih dan lemak tidak sehat. Pengaturan makan bagi lansia dengan diabetes juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan, melainkan tetap memperhatikan kebutuhan gizi dan jadwal makan yang teratur.
Ketiga, menjaga berat badan dan kebiasaan hidup sehat.
Mempertahankan berat badan yang sehat, aktif bergerak dan tidak merokok merupakan bagian penting dalam mencegah atau menunda diabetes tipe 2.
Keempat, melakukan pemeriksaan secara berkala.
Mengetahui kondisi gula darah lebih awal membantu seseorang mengambil langkah yang tepat. Bagi lansia yang sudah menderita diabetes, pengelolaan tidak hanya berhenti pada obat, tetapi juga mencakup pola makan, aktivitas fisik, edukasi, pemantauan gula darah, serta pemeriksaan komplikasi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Dari Senam Menuju Kepedulian
Yang menarik dari kegiatan ini bukan hanya senam atau penyuluhan kesehatannya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menunjukkan adanya sinergi yang harmonis antara Paroki Maria Marganingsih Kalasan dan RS Panti Rini.
Gereja hadir bukan hanya untuk menemani umat dalam kehidupan iman, tetapi juga membangun kepedulian terhadap kehidupan dan kesehatan umat. Sebaliknya, RS Panti Rini hadir memberikan pengetahuan dan pendampingan kesehatan agar para lansia semakin mampu menjaga kualitas hidupnya.
Kerja sama ini menjadi contoh sederhana bahwa kesehatan adalah tanggung jawab bersama. Paroki menyediakan ruang kebersamaan dan pendampingan, sementara tenaga kesehatan memberikan pengetahuan serta edukasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Lansia Sehat, Lansia Bahagia

Pagi itu akhirnya bukan hanya tentang berkeringat setelah senam. Ada tawa, ada kebersamaan, ada ilmu baru, dan ada kesadaran bahwa menjaga kesehatan adalah bentuk syukur atas kehidupan.
Dari gerakan senam yang sederhana hingga pesan kesehatan tentang diabetes, para lansia diajak untuk terus bergerak dan peduli pada tubuhnya.
Sebab menjadi lansia bukan berarti berhenti berkarya. Menjadi lansia adalah kesempatan untuk tetap sehat, tetap menginspirasi, dan tetap menjadi berkat bagi keluarga, Gereja, dan sesama.
Lansia Kalasan: Bahagia, Inspiratif, Sejahtera.
Sehat tubuhnya, gembira hatinya, kuat imannya, dan terus menjadi inspirasi bagi generasi sesudahnya.
Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu




