Misa Jumat Pertama merupakan salah satu bentuk devosi bagi umat Katolik. Devosi Jumat Pertama juga disebut Devosi Sembilan Jumat Pertama adalah sebuah devosi bagi umat Katolik untuk menghormati Hati Kudus Yesus dan untuk mempersembahkan reparasi atas dosa-dosa kepada Sakramen Mahakudus. Devosi ini telah dimulai pada abad 11 dan 12 masehi di lingkungan Biara Benediktin dan Sistersian. Selanjutnya pada abad 17 terdapat praktik devosi kepada Hati Kudus Yesus dari beberapa tokoh spiritual, meskipun praktik devosi tersebut masih bersifat pribadi. Istilah Jumat Pertama berawal dari penampakan Yesus kepada Maria Magdalena Alacoque sebagai devosi Hati Kudus Yesus di Perancis. Dalam penampakannya tersebut Yesus meminta kepada Maria Magdalena Alacoque untuk ada penghormatan khusus kepada Allah. Yesus menampakkan diri dalam kemuliaan dengan kelima penderitaan-Nya yang bersinar bagai Mentari, dan Hati Kudus Yesus tampaklah Hati Kudus Yesus yang mencinta.

Tanggal 7 November 2025 adalah Hari Jumat Pertama di bulan November. Keluarga Maria Magdalena Supraptiwi kembali mengundang umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir untuk doa memule, mendoakan Antonius Triyatno yang telah berpulang empat hari yang telah lalu. Empat puluh (40) umat hadir, termasuk beberapa umat dari lingkungan Cangakan dan Lingkungan Sumber. Sebelum pukul tujuh malam umat telah hadir untuk berdoa bersama keluarga yang ditinggalkan. Ibadat memule dipimpin oleh Yohanes Baptista Topo Kusnandar dan Theovilus Suwarto sebagai pemandu lagu. Pada kesempatan tersebut Topo menceritakan pengalaman masa kecilnya ketika nongkrong di malam hari bersama almarhum. Saat itu Topo ditegur karena sebagai orang Katolik tetapi tidak pernah pergi ke gereja. “Kowe ki mualaf, Po? Yen dadi wong islam kudune kowe yo sregep sholat. Nanging, yen isih Katolik yo kudu sregep sembahyang lan kudu neng nggrejo,” tegur almarhum saat itu. Hal yang disampaikan almarhum saat itu begitu melekat dan membuatnya merenung. Akhirnya Topo pun kembali menjadi Katolik dan mulai ingat ke Gereja. Pengalaman ini tentu tidak lepas dari karya Hati Kudus Yesus yang selalu memanggil kita dan bersemayam di hati kita. Kita yang telah dijadikan anak-Nya melalui Sakramen Baptis yang telah kita terima, baik di saat bayi maupun setelah kita dewasa.

Sebelum pukul delapan malam rangkaian ibadat memule diakhiri dengan berkat penutup, kemudian umat diajak untuk mengidungkan lagu dari Madah Bhakti nomor 530 berjudul Hidup Rukun dan Damai. Terselip harapan agar umat yang hadir selalu guyub rukun di dalam iman, bersama keluarga, dan dalam bermasyarakat. Bagi yang berpulang, dosa-dosanya telah diampuni dan boleh hidup damai di surga.





