Doa “Kamisan” Lingkungan Santo Antonius Padua Berbah dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Januari 2026 pukul 19.00 – 20.30 WIB bertempat di rumah Martha Suryowati (Susilo), Jabung RT 005/RW 002 Kalitirto, Berbah, Sleman. Doa “Kamisan” dihadiri sebanyak 21 umat yang terdiri dari empat anak- anak, dua OMK, dan 15 orang tua. Doa “Kamisan” dipandu oleh Adiguna Pratama (Adi).
Doa “Kamisan” diawali dengan menyanyikan lagu pembuka Puji Syukur 330 “Dengan Gembira”, pengantar, doa pembuka, dan bacaan Injil Markus 4 : 21 – 25 dengan renungan : Pada malam hari ini kita berkumpul menyatukan hati, pikiran serta nurani untuk mendengarkan dan mendalami Injil Yesus Kristus Tuhan kita, dimana kita diajak menjadi secercah terang ditengah kegelapan dunia. Dimulai dari diri sendiri untuk menjadi terang bagi sesama karena tidak bisa dipungkiri kita sebagai kaum minoritas terkadang dipandang sebelah mata, intolera, namun karena hal itu kita bersama terang Sang Kristus berani membela kebenaran dan kasih, bukan dengan pernyataan yang berseru – seru, namun melalui tindakan sehari – hari, bukan untuk diakui tapi ada didalamnya. Meneladani Sang Kristus melalui banyak sekali pengajaran, kita diajak bukan saling menjatuhkan, namun merangkul perbedaan menjadi satu kesatuan, damai penuh kehangatan, tak hanya menilai dari luarnya saja tapi mari bersama melengkapi kekurangan, dan mensyukuri kelebihan karena apa yang ada akan terus ditambah, dan apa yang tidak ada akan diambil semua daripadanya. Terang untuk menuntun kejalan kebenaran, terang untuk merangkul mereka yang haus akan kerinduan akan sang Juru Selamat.

Agustina Herlina Yustanti (Herlin) dalam sharingnya menyampaikan bahwa pelita berfungsi untuk menerangi di ruang yg gelap, pelita berdaya guna, Tuhan Yesus mengajarkan kita menjadi terang bagi orang lain di kala kesulitan, menjadi jati diri kita sebagai seorang Katolik, menjadi garam dengan memberi rasa dalam berbagai kehidupan seperti kondisi di kerjaan dan keluarga, tidak mengingat hal yang menyakitkan dan menjadi lilin bagi orang lain, menyatakan sesuatu yang benar terkadang masih takut maka harus berani walau dimusuhi, sedangkan Christine Tuti Setyorini (Tuti) menambahkan bahwa kita harus berbagi kepada sesama dan mau terbuka. Theresia Suswati (Usi) mengisahkan pengalaman saat kuliah mengikuti PRMK dimana ada kegiatan misa namun saat itu ada seorang laki – laki begitu ramah, gondrong, gaul sedang mencari ruang ganti baju karena dikiranya itu bukan Romo, namun siapa sangka kalau itu Romo setelah mengeluarkan jubah dari tasnya, nilai yang ingin diambil jangan menilai orang dari penampilan saja karena bila sudah mengetahu lebih dalam Romo memiliki keahlian tujuh bahasa.

Margareta Elisa Kurniawati (Nia) berpendapat bahwa menjadi pelita dimulai dari diri sendiri dan memberikan contoh agar bisa menjadi pelita bagi orang lain. Maria Theresia Nunuk Kasihani (Nunuk) juga menuturkan setiap hari Jumat ada pelajaran agama lalu setelah pulang sekolah Mima (anak) diajak ke kantor, sepanjang pulang sekolah hingga di kantor, Mima menyanyikan lagu rohani yang dinyanyikan saat sekolah, kondisi rekan – rekan di kantor muslim semua dan hanya saya sendiri yang non muslim namun mendengarkan lagu yang dinyanyikan Mima membuat suasana di kantor ikut menyanyikan lagu tersebut. Stanislaus Apri Hananto Putra (Apri) menyampaikan menjadi terang tidak semudah dibayangkan seperti kondisi di kantor dengan banyaknya oknum – oknum yang melakukan kecurangan/penyimpangan, terkadang bisa membuat kita tergoda mengikuti arus tersebut sehingga perlu berhati – hati. Terakhir dalam sesi sharing, Magdalena Kasih (Kasih) menceritakan pengalamannya pada saat melayat di tempat almarhum bapak dari Romo Dadang dimana lingkungan tersebut muslim semua, mereka begitu toleransi dengan semua warga terlibat dalam acara tersebut.

Setelah sesi sharing dilanjutkan dengan doa umat, penutup, berkat penutup, menyanyikan lagu penutup Puji Syukur 659 “Cinta Kasih Allah”. Setelah Doa “Kamisan” selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah serta penyampaian pengumuman dan informasi mengenai berbagai agenda yang akan dilaksanakan di Lingkungan Santo Antonius Padua Berbah, Gereja Santo Yusuf Berbah, maupun Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Melalui Doa “Kamisan” ini, umat diharapkan semakin diingatkan untuk menjadi terang, sekecil apa pun, dengan menghayati iman kepada Yesus yang diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata sebagai jati diri umat Katolik. Hal tersebut tercermin melalui kasih, kejujuran, dan semangat pengampunan. Selain itu, umat juga diajak untuk meluangkan waktu dalam pelayanan dan kegiatan komunitas iman, serta berani bersaksi tentang Kristus melalui teladan hidup sehari-hari, baik dalam keluarga, lingkungan, maupun di tengah masyarakat.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Nova Ardianti



