413 St. Yusup Tegalbojan: Doa dan Sarasehan APP Ketiga

Pada hari Kamis, 5 Maret 2026, Lingkungan St. Yusup Wilayah St. Petrus Kanisius Kalasan Tengah menyelenggarakan doa dan sarasehan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ketiga. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah Gregorius Tri Wahyudi yang beralamat di Dusun Temanggal 1, RT 04 RW 02, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh 25 umat yang dengan penuh antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Pertemuan APP ketiga ini mengangkat tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Sarasehan dipandu oleh Maria Budi Triatini, sementara lagu dipimpin oleh Cicilia Anik Setyowati. Lagu pembuka yang dinyanyikan adalah MB 375 “Datanglah di Sisi-Ku”, dan lagu penutup MB 529 “Yang Kauperbuat bagi Saudara-Ku”, yang semakin meneguhkan suasana reflektif dan kebersamaan umat. Untuk bacaan Kitab Suci dibacakan oleh Natalia, sedangkan bacaan ilustrasi disampaikan oleh tuan rumah, Gregorius Tri Wahyudi. Doa umat dipimpin oleh Cicilia Karyani, yang mengajak seluruh umat untuk mendoakan sesama, terutama mereka yang membutuhkan perhatian dan kepedulian.

Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk menyadari bahwa setiap rahmat yang diterima dari Tuhan sejatinya merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama, khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Ketika seseorang enggan menggunakan sumber daya yang dimilikinya untuk kebaikan, maka hal tersebut dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa ketidakpedulian. Sikap tidak peduli ini tidak hanya merugikan orang lain, tetapi juga menjauhkan diri dari panggilan iman sebagai murid Kristus. Lebih lanjut, ditegaskan bahwa menghadirkan kebaikan tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang memiliki kelimpahan materi. Setiap orang, dengan apa yang dimilikinya, dapat berkontribusi bagi sesama. Mereka yang memiliki pengetahuan dapat berbagi ilmu, yang memiliki relasi dapat membuka akses dan membantu sesama, yang melek teknologi dapat mendampingi orang lain dalam menggunakan alat komunikasi, dan yang memahami hukum dapat memberikan bantuan atau perlindungan kepada mereka yang membutuhkan keadilan. Dengan demikian, setiap pribadi dipanggil untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain sesuai dengan kemampuan dan talenta masing-masing.

Dalam pendalaman, umat diajak untuk merefleksikan kisah tentang orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19–31). Dikisahkan bahwa seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara Lazarus, seorang miskin yang penuh luka, terbaring di depan pintu rumahnya dan sangat berharap mendapatkan remah-remah makanan. Namun, orang kaya tersebut tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun terhadap penderitaan Lazarus. Melalui kisah ini, umat diajak untuk menyadari bahwa dosa orang kaya bukan terletak pada kekayaannya, melainkan pada sikap ketidakpeduliannya terhadap sesama yang menderita di sekitarnya. Ia tidak melakukan kejahatan secara langsung, tetapi ia memilih untuk tidak peduli. Sikap abai inilah yang menjadi bentuk nyata dari dosa ketidakpedulian. Sebaliknya, Lazarus menjadi gambaran dari mereka yang kecil, lemah, dan sering kali tidak diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran Lazarus di depan pintu rumah orang kaya sesungguhnya merupakan kesempatan bagi orang kaya untuk berbuat kasih, namun kesempatan itu diabaikan. Melalui refleksi ini, umat diajak untuk melihat kembali kehidupan pribadi: apakah di sekitar kita juga ada “Lazarus-Lazarus” masa kini? Mereka bisa berupa orang miskin, orang sakit, mereka yang kesepian, tersisih, atau bahkan orang-orang terdekat yang membutuhkan perhatian namun sering diabaikan.

Pendalaman ini menegaskan bahwa sering kali manusia tidak kekurangan kemampuan untuk membantu, tetapi justru kekurangan kepekaan dan kepedulian. Tuhan menghadirkan sesama yang membutuhkan sebagai kesempatan bagi manusia untuk menghidupi kasih. Oleh karena itu, umat diajak untuk tidak menutup mata dan hati, melainkan berani tergerak untuk bertindak. Sumber daya yang kita miliki adalah titipan Tuhan yang harus digunakan untuk memberkati sesama. Pelayanan dengan rendah hati dan penuh kasih adalah cara kita mengikuti teladan Yesus Kristus. Setiap kebaikan sekecil apapun membawa dampak besar bagi mereka yang membutuhkan.

Akhirnya, melalui pertemuan ini umat diharapkan semakin menyadari bahwa tanggung jawab sosial merupakan wujud nyata dari iman yang hidup. Iman tidak berhenti pada doa atau perayaan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang menyentuh kehidupan sesama. Dengan meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan kepedulian sosial, umat diharapkan mampu menjadi terang dan garam bagi sesama, serta menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Nathalia Gita

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *