Jalan Salib adalah devosi Katolik Roma yang mengenang perjalanan penderitaan Yesus Kristus, mulai dari dijatuhi hukuman mati, memikul salib ke Kalvari hingga disalibkan dan dimakamkan. Ibadat ini biasanya terdiri dari empat belas perhentian yang merenungkan kisah sengsara-Nya. Jalan Salib dilakukan pada masa Pra- Paskah khususnya setiap hari Jumat dan Jumat Agung. Jalan Salib dilakukan sebagai bentuk penghormatan, perenungan kasih Allah serta pertobatan atas dosa-dosa manusia melalui pengorbanan Yesus.

Pada hari Jumat terakhir di bulan Maret 2026, tepatnya 27 Maret 2026 umat lingkungan St Matius Cupuwatu mengadakan ibadat Jalan Salib lingkungan. Tiap Jumat selama masa Pra- Paskah, lingkungan St Matius mengadakan ibadat Jalan Salib. Tidak hanya sekedar ibadat tetapi umat juga mengumpulkan jimpitan beras yang akan dibagikan pada warga yang membutuhkan sebagai Aksi Puasa Pembangunan. Ibadat Jalan Salib pada Jumat malam tersebut dipandu oleh Eirene Djumoko sedangkan petugas angkat nada/lagu oleh Anthonia Divina.

Pukul 19.00 WIB, Ibadat Jalan Salib dimulai. Kegiatan tersebut bertempat di pendopo rumah Paulus Wahyudi. Ketujuh belas umat mengikuti ibadat dengan baik dan fokus untuk merenungkan sengsara Tuhan Yesus secara bersama-sama. Bernyanyi dan berdoa bersama untuk merenungkan kasih Allah. Bertobat, berpuasa dan berpantang di masa Pra Paskah untuk memurnikan diri. Panduan ibadat dan lagu-lagu diambil dari Madah Bakti. “Sengsara-Mu O Yesus” menjadi lagu penutup pada Ibadat Jalan Salib di malam itu. Empat puluh lima menit berlalu dan pukul 19.45 WIB ibadat selesai. Umat pulang ke rumah masing-masing dengan semangat pertobatan dan kesiapan hati untuk menyambut hari raya Paskah.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Damiana Wijosari Pusoko



