Dua puluh lima (25) umat Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir kembali berkumpul untuk berdoa Rosario bersama di hari yang ketiga. Pertemuan yang ketiga ini dilaksanakan pada hari Jumat, 3 Oktober 2025 di rumah keluarga Agnes Sumarwi. Seperti biasa, rangkaian doa dimulai pada pukul tujuh malam.

Pada kesempatan kali ini, umat bersatu mendaraskan Doa Rosario dalam Peristiwa Sengsara. Peristiwa ini mengajak kita untuk kembali merenungkan peristiwa sengsara Yesus. Betapa berduka hati Bunda Maria menyaksikan Putra kesayangannya di paku di kayu salib, menanggung penderitaan yang sangat hebat, menyongsong kematian. Ia berada di bawah salib Putranya tanpa bisa berbuat apa-apa. Namun, keberadaan Bunda Maria di dekat Sang Putra menunjukkan kesetiaannya dan kepeduliannya terhadap penderitaan yang dialami Yesus. Kita sebagai manusia lebih memilih menghindari salib daripada memeluk salib. Kita cenderung lebih suka bergembira, berpesta sukaria, daripada mendengarkan seseorang mencurahkan isi hatinya, menemani orang sakit, atau meringankan beban orang yang sedang berduka. Kita sebagai umat-Nya, melalui doa Rosario, perlu belajar dari Bunda Maria tentang arti kesetiaan, tentang kepedulian, tentang solidaritas, setia bertahan dalam situasi yang tidak menggembirakan, demi menemani sesama yang menderita.

Rangkaian Doa Rosario diawali dengan ibadat sabda yang dipimpin oleh prodiakon RB Sarbini Ari Purnomo. Sebelum didaraskan doa Rosario, umat diberi kesempatan untuk mengungkapkan doa permohonan secara spontan. Pendarasan doa Rosario dipandu oleh RB Maryanto, sedangkan perikop setiap peristiwa dibacakan oleh Ave, Kesya, dan Nea secara bergantian. Semua umat yang hadir menyatu di dalam doa yang berlangsung khusyuk dan khidmat.





