Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan menyelenggarakan Sarasehan Katakese Kebangsaan pada Senin malam, 10 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB bertempat di kediaman Yohanes Sulistyanto, Brintikan RT. 03 Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Kegiatan yang diikuti oleh 19 umat ini dipandu oleh Prodiakon Clara Henny. Sarasehan menjadi kesempatan bagi umat untuk semakin memahami bahwa iman Katolik tidak hanya dihayati dalam kehidupan menggereja, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian, kebersamaan, dan keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebelum sarasehan dimulai, Ketua Lingkungan, Hilarius Yudi Lasyanto memberikan pengantar singkat tentang Sarasehan Katakese kebangsaan yang pertama, yang mengankat tema “Setiap Orang Ada Zamannya” dengan sub tema “Iman Menjadi Kekuatan untuk Membuka Diri.” Dalam pertemuan pertama ini, umat diajak belajar dari Romo Y.B. Mangunwijaya yang lebih dikenal sebagai Romo Mangun, seorang imam, arsitek, satrawan, pendidik, pemikir, dan pembela kemanusiaan. Hidupnya menunjukkan bahwa iman Katolik dapat menjadi kekuatan untuk mencintai Indonesia secara mendalam.

Lagu “Betapa Tidak Kita Bersyukur” dari Puji Syukur No.707 membuka sarasehan ini. Selanjutnya sarasehan dipandu oleh Prodiakon Clara Henny. Bacaan Kitab Suci dari Injil Matius 5:13-16 tentang Garam dan Terang Dunia menjadi dasar permenungan bersama. Setelah itu pemandu membacakan kisah inspiratif Romo Mangun. Setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menjadi sangat hidup kalau kita menengok perjalanan masa muda Romo Mangun. Disampaikan, Romo Mangun sebagai pribadi beriman yang dibentuk oleh keluarga, Gereja, pendidikan, pengalaman sejarah, dan pergulatan bangsa.Iman bagi Romo Mangun bukan benteng untuk menghindari dunia dan tidak mau “srawung”, melainkan kekuatan untuk hadir, mendengar, belajar, dan melayani.
Pemandu mengajak umat sharing dengan menjawab beberapa pertanyaan yang ada dalam buku panduan. M.Th. Sri Wahyunani yang biasa dipanggil Nanik menyampaikan bahwa umat di lingkungan ini selama ini sudah berusaha menjadi garam dan terang di padukuhan Brintikan. Saat ini juga ada beberapa umat yang mengikuti rapat panitia tujuh belasan. Pernah juga ada FX Trisno Suroto dipercaya menjadi Ketua RT 07 dan saat ini juga banyak umat yang menjadi pengurus RT dan RW.Sementara itu, Theresia Ildayati membagikan pengalaman dirinya dalam membangun kebersamaan dengan warga sekitar. Ia selalu membantu masak saat umat muslim mengadakan Jumat Berkah, maupun saat perayaan Idul Qurban. Pemandu sendiri juga menyampaikan refleksinya mengenai keterlibatannya di lingkungan masyarakat. Kesibukan pekerjaan di kantor serta tanggung jawab pelayanan di Gereja sebagai seorang prodiakon menjadi beberapa hal yang membuatnya belum dapat terlibat aktif dalam kegiatan di lingkungan RT.

Pada bagian akhir pemandu mengajak umat untuk merumuskan satu tindakan konkret sebagai buah dari permenungan bersama. Salah satu tindakan sederhana yang disepakati adalah mulai menyapa atau mengunjungi tetangga yang selama ini jarang diajak bicara. Tindakan kecil tersebut diharapkan menjadi langkah nyata untuk membangun hubungan yang lebih dekat, menumbuhkan kepedulian, serta menghadirkan kasih di tengah masyarakat. Dengan demikian, umat tidak hanya memahami makna menjadi “garam dan terang dunia” melalui kata-kata, tetapi juga berani mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sarasehan ditutup dengan menyanyikan lagu “Hari Merdeka” dengan penuh semangat dan suasana kebersamaan. Selesai sarasehan dilanjutkan dengan ramah tamah dengan menikmati teh hangat dan bakso yang telah disiapkan tuan rumah. Kebersamaan sederhana tersebut semakin mempererat persaudaraan di antara umat. Semoga melalui sarasehan ini, umat LIngkungan Santo Bartolomeus Brintikan semakin mampu menghayati iman secara nyata, berani membuka diri, serta hadir sebagai garam dan terang yang membawa kasih, kepedulian, persaudaraan, dan kedamaian di tengah masyarakat.





