Kalasan – Langit Yogyakarta pada Kamis malam (26/02/2026) terasa begitu bersahabat. Setelah guyuran hujan merata sejak pagi, cuaca berubah cerah, seolah memberikan restu bagi umat Lingkungan Santo Stefanus Karanglo untuk berkumpul. Pukul 18.30 malam, sebanyak 77 umat hadir dengan penuh antusias di kediaman Heribertus Setiono, kompak mengenakan busana bernuansa ungu khas masa Prapaskah. Misa lingkungan kali ini terasa istimewa dengan kehadiran Romo Yohanes Ngatmo, Pr.

Suasana khidmat segera terbangun saat lagu pembuka “Di Jenjang Maaf” dikumandangkan dengan apik oleh anggota koor lingkungan. Romo Ngatmo membuka perayaan dengan gaya khasnya: santai dan penuh kelakar. Beliau menyapa umat dengan menyebut bahwa inti dari misa lingkungan adalah doa, foto-foto, dan makan bersama—sebuah gurauan yang langsung mencairkan suasana. Namun, di balik candaannya, Romo Ngatmo membawa pesan mendalam dalam homilinya. Beliau berbagi kisah tentang dinamika tugasnya di Paroki Kalasan serta pengalamannya di tanah Papua selama tujuh tahun. Melalui kisah-kisah tersebut, Romo menekankan pentingnya penerimaan diri terhadap setiap panggilan dan tanggung jawab hidup. “Perjalanan hidup memang penuh kesulitan yang tidak mudah, tetapi keteguhan hati adalah bagian dari perjuangan itu sendiri,” pesan beliau.

Refleksi ini sejalan dengan Bacaan Pertama dari Kitab Ester yang dibacakan oleh Leo, yang menggambarkan kepasrahan Ester kepada Tuhan di tengah himpitan persoalan. Mengulas Bacaan Injil hari itu (Matius 7:7-12), Romo mengingatkan umat akan kuasa doa. Beliau menyoroti keraguan yang sering muncul dalam hati saat berdoa. Padahal, janji Tuhan sudah jelas: “Mintalah, maka akan diberi; carilah, maka akan mendapat.” Namun, Romo memberikan catatan penting: berdoa bukan sekadar daftar permohonan yang panjang, melainkan tentang ketekunan untuk “mengetuk pintu yang benar”. Beliau mengajak umat menyadari bahwa berkat dan rahmat Tuhan sudah mengalir dalam hidup kita, terlepas dari apakah semua permohonan kita dikabulkan atau tidak.

Puncak ibadat Ekaresti ini ditandai dengan penerimaan komuni yang dilayani oleh Prodiakon Veronika Suryani, diiringi lagu syahdu “Meraja di Hatiku”. Doa-doa yang dipanjatkan malam itu membawa satu harapan besar: agar Lingkungan Santo Stefanus Karanglo terus tumbuh dalam persaudaraan yang tulus, bahagia, menginspirasi, serta menyejahterakan. Sesuai dengan “janji” Romo di awal misa, acara pun ditutup dengan sesi foto bersama dan santap bakso yang penuh keakraban. Bagi umat Santo Stefanus, misa lingkungan tahunan ini bukan sekadar rutinitas liturgis, melainkan momen penyegaran iman yang nyata di tingkat akar rumput, mempererat simpul persaudaraan dalam keseharian.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Wahyuningsih



