041 St. Bartolomeus Brintikan: Koor Dua Lingkungan Menyatu dalam Kasih Tuhan

Lingkungan Santo Bartolomeus Brintikan bersama Lingkungan Santo Yohanes Pembaptis Sembur, keduanya berada di bawah naungan Wilayah Santo Petrus Damianus Kalasan Timur, kembali dianugerahi rahmat yang lembut namun begitu berharga: kesempatan untuk melayani bersama dalam tugas koor Misa Harian. Pada Senin pagi yang bening, 17 November 2025, tepat pukul 06.00 WIB, di Gereja Maria Marganingsih Kalasan yang teduh, kedua lingkungan ini menyatukan suara, hati, dan kerinduan rohani, mempersembahkan pujian dalam Misa Pekan Biasa XXXIII yang dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Pelayanan koor bukan sekadar rangkaian nada yang harmonis, tetapi sebuah doa yang dibentuk oleh getaran hati; sebuah sembah yang mengalir dengan lembut, lahir dari kedalaman jiwa, lalu naik sebagai persembahan suci kepada Allah yang setia menyertai kehidupan umat-Nya. Dalam setiap nada yang mengalun dan setiap kata yang dinyanyikan, umat diajak memasuki lorong keheningan yang kudus—ruang di mana hati dapat kembali menemukan kedamaian, rindu dapat menemukan jawabannya, dan jiwa dapat merasakan Allah mengetuk perlahan, menyentuh lembut relung-relung terdalam. Suara-suara yang berpadu indah bagaikan benang-benang cahaya yang dirajut menjadi satu karya agung, membuka jalan agar sabda Tuhan dapat mengalir dengan lebih jernih ke hati umat.

Melalui nyanyian yang penuh penghayatan, umat diajak untuk menyerahkan diri, merengkuh kasih-Nya dengan rendah hati, serta memperbarui komitmen untuk berjalan bersama Kristus dalam keseharian. Kehadiran lima belas umat yang terlibat, didukung oleh organis Gita yang setia mengalirkan iringan lembut, membuat pelayanan koor pagi itu terasa penuh makna. Lagu pembuka “Bersoraklah, Umat Kristus” (Puji Syukur No. 642) melintas bagaikan seruan sukacita yang membangunkan semangat rohani, sementara lagu penutup “Kudapatkan di Hatiku” (Puji Syukur No. 696) mengalun seperti pelita yang menyala hening di hati setiap umat yang hadir. Mazmur tanggapan, “Hidupkanlah aku ya Tuhan, supaya aku berpegang pada perintah-Mu,” menjadi bisikan iman yang meneguhkan langkah, sebuah permohonan agar hidup terus diarahkan pada kehendak-Nya.

Semoga semangat pelayanan yang terpancar dari kebersamaan ini menjadi benih yang menumbuhkan inspirasi baru, menggerakkan semakin banyak hati untuk turut ambil bagian dalam karya liturgi Gereja. Kiranya setiap nada yang terlantun tidak berhenti pada dinding gereja, tetapi terus bergema dalam perjalanan hidup umat—menjadi berkat, penghiburan, serta sumber kekuatan yang senantiasa menyertai langkah-langkah mereka menjalani hari.

Catatan : Foto dikirim oleh Clara Henny

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *