KOMSOS-GMMK. Dalam semangat Natal dan Tahun Baru 2025, kasih tidak hanya dirayakan dalam kata dan doa, tetapi juga dihidupi melalui langkah nyata. Itulah yang dilakukan oleh perwakilan PIUD, PIA, dan PIOM melalui kegiatan silaturami dan kunjungan kasih ke Panti Asuhan PPYK (Putra Putri Yesus Kristus) Kalikuning serta Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Jetisharjo.

Kado Natal yang dipersembahkan bukan emas, kemenyan, atau mur, melainkan kado untuk Bayi Yesus berupa alat tulis dan mainan—simbol harapan, pendidikan, dan sukacita bagi sesama. Kado-kado tersebut dikumpulkan dengan ketulusan dan keikhlasan hati yang mendalam, lalu diantar langsung di dua tempat yang menjadi ruang hidup dan pertumbuhan bagi saudara-saudari kita.
Kunjungan ini diwakili oleh Ve, Clara, Destha, Rani, Mira, dan Samuel, yang dengan hati terbuka menjadi jembatan kasih antara komunitas dan mereka yang dikunjungi.

Belajar Setia dari Pagi Buta di PPYK Pakembinangun
Di Panti Asuhan PPYK Kalikuning, rombongan disambut hangat oleh Suster Fani, yang dengan penuh cinta menuturkan keseharian anak-anak panti. Penuturan ini membuat Destha terkesima. Anak-anak PPYK memulai hari mereka sejak pukul 03.30 pagi. Ada yang memasak untuk sarapan, ada yang membantu suster membuat camilan seperti donat dan risol mayo untuk dibawa ke sekolah dan dijual dan ada pula yang dengan penuh tanggung jawab memandikan adik-adiknya.

Pukul 05.00, mereka sudah siap berjalan kaki menuju gereja Pakem untuk mengikuti misa pagi. Setelah misa barulah mereka berangkat ke sekolah. Yang membuat makin terharu adalah adanya fakta bahwa di PPYK Kalikuning terdapat dua bayi yang setiap hari juga ikut hadir dalam misa pagi.
“Woooo… kita jangan mau kalah sama bayi dong!” celetuk Mira spontan, disambut tawa dan keharuan bersama. Kalimat sederhana itu menjadi refleksi mendalam tentang kesetiaan, ketekunan, dan iman yang dijalani sejak dini.
Menemukan Kehangatan di Ponpes Waria Al-Fatah
Usai dari PPYK, rombongan yang dipimpin oleh Bunda Yuni Shara Baskorolangsung melanjutkan perjalanan ke Pondok Pesantren Waria Al-Fatah Jetisharjo . Sambutan hangat dan penuh keramahan langsung menyapa sejak langkah pertama.

Di sana, rombongan menyaksikan teman-teman transpuan belajar mengaji dengan khusyuk, penuh kesungguhan dan kerendahan hati. Pemandangan ini menjadi pengalaman yang menyentuh, terutama bagi Rani, Destha, dan Samuel yang mengakui bahwa ini adalah kunjungan pertama mereka ke ponpes waria.
Rasa takut dan canggung yang sempat hadir perlahan sirna, terobati oleh senyum, sapaan ramah, dan kehangatan yang tulus—jauh dari bayangan yang selama ini mungkin tercipta di langit-langit ingatan mereka. Kunjungan ini membuka mata dan hati bahwa teman-teman transpuan juga adalah umat Allah, pribadi-pribadi yang rindu akan Tuhan, belajar, berdoa, dan hidup dalam kasih seperti siapa pun.

Natal yang Mengubah Hati
Silaturami dan pengantaran kado Bayi Yesus ini menjadi lebih dari sekadar kegiatan rutin. Ia menjelma perjumpaan yang mengubah hati, mengajarkan bahwa Natal adalah tentang keluar dari zona nyaman, menyingkirkan prasangka, dan membiarkan kasih Allah bekerja dalam perjumpaan nyata.

Di PPYK Kalikuning dan Ponpes Waria Al-Fatah, rombongan pulang dengan hati penuh syukur—karena telah belajar bahwa kasih Tuhan hadir dimana pun manusia saling menerima, melayani, dan mengasihi tanpa syarat. Natal dan Tahun Baru 2025 pun menjadi semakin bermakna, sebab Bayi Yesus kembali dijumpai—dalam wajah anak-anak panti dan saudara-saudari transpuan yang hidup dalam harapan.
Catatan Liputan dan foto oleh Ve Allessandra N



