KALASAN – Merayakan semangat Paskah dengan cara yang berbeda, para pendamping pendamping Iman Jenjang (PIUD, PIA, PIR, dan PIOM) dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan menggelar aksi kemanusiaan pada Minggu, 5 April 2026. Kegiatan ini diwujudkan melalui kunjungan ke Waria Crisis Center (WCC) dan komunitas Orang dengan HIV (ODIV) sebagai bentuk upaya nyata keluar dari zona nyaman dan merangkul kelompok yang sering kali terpinggirkan.
Aksi Nyata Menyapa Sesama
Rombongan pendamping iman dari berbagai jenjang usia ini memulai perjalanan mereka dengan misi sederhana: mendengar dan menyapa. Kunjungan ini bertujuan untuk memperluas cakrawala empati para pendamping agar tidak hanya berfokus pada kegiatan internal paroki, tetapi juga berani bersentuhan langsung dengan realitas sosial di masyarakat luas.
“Ini adalah momen bagi para pendamping untuk belajar melihat wajah kemanusiaan di tempat-tempat yang mungkin selama ini jarang dikunjungi,” ujar salah satu koordinator lapangan di sela-sela kegiatan.

Belajar dari WCC dan Komunitas ODIV
Di Waria Crisis Center (WCC), para peserta berdialog mengenai perjuangan komunitas waria dalam mendapatkan hak-hak dasar serta ruang aman di masyarakat. Diskusi berlangsung hangat, di mana para pendamping mendengarkan kisah hidup dan tantangan sosial yang dihadapi oleh anggota komunitas.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan menyambangi komunitas ODIV. Dalam pertemuan tersebut, penekanan utama diberikan pada pentingnya menghapus stigma negatif terhadap penyintas HIV/AIDS. Para pendamping diajak untuk memahami bahwa pendampingan iman yang inklusif harus dimulai dengan keterbukaan pikiran dan hati tanpa menghakimi kondisi kesehatan atau latar belakang seseorang.

Keluar dari “Zona Nyaman”.
Kegiatan ini dirancang sebagai refleksi atas makna kebangkitan Paskah. Keluar dari “zona nyaman” menjadi tema sentral bagi para pendamping PIUD (Paud), PIA (Anak), PIR (Remaja), dan PIOM (Orang Muda). Dengan berinteraksi langsung, diharapkan para pendamping dapat membawa nilai-nilai inklusivitas ini ke dalam pengajaran iman di lingkungan paroki.
“Paskah bukan hanya perayaan liturgis, tetapi gerakan untuk hadir bagi mereka yang merasa ditinggalkan,” tambah perwakilan peserta.
Respon Positif.
Bunda Rully mewakili Pihak WCC maupun komunitas ODIV menyambut baik inisiatif dari Paroki Kalasan ini. Mereka mengapresiasi langkah institusi keagamaan yang mau membuka diri dan menjalin silaturahmi tanpa sekat. Pertemuan ini diakhiri dengan doa bersama dan komitmen untuk terus menjaga komunikasi demi terciptanya masyarakat yang lebih toleran dan suportif.

Melalui aksi ini, Paroki Maria Marganingsih Kalasan berharap semangat Paskah 2026 dapat meninggalkan dampak jangka panjang, khususnya dalam membentuk karakter para pendamping yang lebih peka terhadap isu-isu kemanusiaan dan keadilan sosial.




