0311 Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir: Penyakit Kusta Kita adalah Dosa dan Kelemahan Diri

“Orang kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir,” Injil Markus bab 1 ayat 40-45 ini menjadi inspirasi pendalaman iman rutin Lingkungan Gregorius Agung Kaliajir pada hari Kamis, 15 Januari 2026 di rumah Keluarga Alexander Prayanto WH di Jalan Bima nomor 5 Kaliajir Lor. Dengan bait Pengantar Injil dari Matius 4 ayat 23: Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit. Pertemuan rutin yang dirindukan, meskipun tidak selalu dihadiri oleh semua umat di LGAK.

Pendalaman iman pada hari Kamis pukul tujuh malam ini dipimpin oleh prodiakon Theresia Yuliastutie, dihadiri oleh dua puluh (20) umat, termasuk dua (2) orang anak. Diawali dengan lagu pembuka dipandu oleh Theovilus Suwarto. Hari ini Injil berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang penderita kusta  yang menajiskan. Tindakan Yesus ini berangkat dari hati-Nya yang berbelas kasih dan tulus. Orang yang hatinya berbelas kasih dapat dengan mudah merasakan penderitaan orang lain (empati) dan tergerak untuk membantu. Hati yang tulus  dicirikan dengan melakukan perbuatan kasih tanpa maksud lain, tanpa mencari-cari keuntungan dan mengharapkan balasan. Itulah yang dilakukan Yesus terhadap orang berpenyakit kulit yang menajiskan itu. Setelah menyembuhkannya Yesus meminta agar tidak mengatakan pada orang lain peristiwa yang baru saja dialaminya. Hati Yesus yang penuh belas kasih dan tulus itu mampu memutuskan niat-Nya untuk membantu, tanpa banyak intensi selain  ingin menyatakan kasih Allah kepada umat-Nya.

Dalam tanggapan umat, Fransiska Romana Pujiyati mengatakan bahwa penyakit kusta itu sejatinya adalah dosa dan kelemahan kita. “Ada niat untuk memperbaiki tetapi setiap kali dihadapkan pada kenyataan, melayani suami yang sakit, seringkali hilang kesabaran sehingga mengulangi doa dan kelemahan yang sama,” ungkapnya sambil tersenyum menyadari sebagai manusia lemah. Sementara RB Maryanto mengungkapkan pengalaman kebaikan Tuhan pada saat anaknya sakit, “Tuhan menguatkan saya dan keluarga sehingga mampu melewati masa-masa sulit mendampingi anak sakit. Bahkan kemudian Tuhan memberikan penghiburan kesembuhan anak dan anak diterima di jurusan yang diinginkan.” Dilanjutkan dengan pengalaman Lambert Tallulembang, “Waktu kecil di kampung kami ada tetangga yang sakit kusta. Setiap kali melewati depan rumahnya, kami berlari sambil menutup hidung dan menahan napas agar tidak tertular. Ini adalah pengalaman nyata atas sikap kita yang lebih memilih menghindari dan menjauhi mereka yang sakit. Padahal sejatinya yang mereka butuhkan adalah kasih dan empati kita yang dapat diwujudkan dengan berbagai cara.” Sharing umat ini mengingatkan kita untuk meneladan Yesus untuk terus memiliki hati yang berbelas kasih dan tulus.

Lucia Indarwati

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *