045 St. Yohanes Pembaptis Karangnongko: Pertemuan APP ke-4

Pertemuan Aksi Puasa Pembangunan (APP) ke-4 Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Karangnongko dilaksanakan lebih awal dari jadwal biasanya yaitu pada Senin, 16 Maret 2026 bertempat di kediaman Ningrum dan dihadiri oleh lima belas umat. Pertemuan ini dipandu oleh FX Anon dan berlangsung dalam suasana hangat serta penuh kebersamaan.

Pertemuan diawali dengan doa pembukaan, kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi yang dikemas secara menarik melalui permainan kelompok, sehingga umat dapat lebih mudah memahami isi permenungan sekaligus membangun kekompakan. Dalam pertemuan ini ditekankan bahwa pelayanan kasih di Gereja perlu memiliki pedoman atau “aturan main” dan tidak bisa dilakukan secara “ora waton”. Tanpa pedoman yang jelas, pelayanan bisa berjalan tanpa arah—seperti lomba lari tanpa garis finish: melelahkan, membingungkan, dan hasilnya tidak maksimal. Dengan adanya pedoman, pelayanan Gereja dapat berjalan terarah, tidak tumpang tindih, serta benar-benar menjawab kebutuhan umat.

Fokus utama pelayanan diarahkan kepada kelompok KLMTD (kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel), serta juga mencakup lansia, orang sakit, janda, dan keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Bentuk pelayanan dapat berupa bantuan pendidikan, renovasi rumah, pelatihan keterampilan, penyediaan alat bantu disabilitas, hingga pendampingan sosial. Umat diajak untuk tidak hanya berhenti pada rasa empati, tetapi juga berani terlibat secara nyata dalam membantu sesama.

Dalam masa prapaskah ini, umat juga diingatkan bahwa pertobatan tidak hanya sebatas menahan diri, tetapi diwujudkan dalam tindakan berbagi. Kotak APP menjadi sarana konkret untuk menyalurkan kasih kepada sesama. Hal kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi berkat besar bagi mereka yang membutuhkan. Agar pelayanan sungguh berdampak, dana APP perlu dikelola dengan prinsip tepat sasaran, tepat kebutuhan, dan tepat waktu, serta dilaksanakan secara jujur, transparan, dan tanpa pilih kasih. Dengan pengelolaan yang baik, bantuan yang diberikan dapat benar-benar membantu, bukan sekadar formalitas.

Melalui pertemuan ini, umat semakin disadarkan bahwa pelayanan kasih yang baik akan menjadikan Gereja hadir secara nyata di tengah masyarakat—bukan hanya dikenal dari kegiatan internal, tetapi sungguh dirasakan sebagai sumber kasih, kepedulian, dan berkat bagi banyak orang. Pertemuan diakhiri dengan doa penutup, dengan harapan semangat pelayanan kasih terus tumbuh dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari umat.

Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Rina Wijayandari

Andreas Sudihartono

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *