Pembekalan Calon Baptis Dewasa Paroki Maria Marganingsih Kalasan

Suasana Minggu pagi, 15 Maret 2026, di Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan terasa berbeda. Di tengah keheningan gereja yang penuh makna, 34 calon baptis dewasa dan 4 penerimaan dari gereja lain berkumpul dengan hati yang berdebar. Mereka seolah-olah sedang menghitung hari menuju sebuah peristiwa penting dalam hidup mereka. Pembekalan yang mengangkat tema “Menghitung Hari” ini menjadi momen refleksi mendalam sebelum mereka menerima sakramen baptis.

Pembekalan disampaikan oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., yang dengan hangat mengajak para peserta menyelami makna sakramen baptis bukan sekadar sebagai upacara, tetapi sebagai anugerah hidup baru yang kekal.

“Baptis itu bukan hanya peristiwa sekali seumur hidup, tetapi anugerah yang membuka kehidupan baru bersama Kristus, bahkan menuju hidup kekal,” ungkap Romo Dadang di hadapan para calon baptis.

Romo projo KAS menegaskan bahwa baptis adalah pintu gerbang menuju sakramen-sakramen lainnya. Dalam kehidupan Gereja Katolik, proses inisiasi kristiani terdiri dari tiga sakramen penting yakni Baptis, Ekaristi, dan Penguatan. Ketiganya merupakan dasar yang membentuk kehidupan iman setiap umat Katolik.

Lebih jauh Romo yang berasal dari paroki Delanggu ini mengajak para peserta memahami makna rahmat baptisan yang begitu mendalam. Rahmat itu tidak pernah hilang sepanjang hidup manusia.

“Rahmat baptisan itu kekal. Bahkan kalau seseorang menjauh dari Gereja atau mengalami ‘lock out’, rahmat itu tetap ada dalam dirinya,” jelasnya.

Rahmat baptisan membawa beberapa makna penting bagi kehidupan iman, antara lain, menghapus dosa asal, mengangkat manusia menjadi anak Allah, menjadikan seseorang anggota Gereja dan juga menjadikan manusia bait Roh Kudus. Namun, Romo Dadang juga mengingatkan bahwa baptisan bukan sekadar perubahan status agama. Baptisan adalah panggilan hidup.

“Baptisan bukan status semata, tetapi panggilan untuk menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Dengan nada reflektif sekaligus bersahabat, Romo yang hobi fotografi ini bahkan menantang para calon baptis untuk benar-benar meneguhkan hati mereka.

“Siapkah kita dibaptis? Masih ada waktu lho kalau tidak jadi,” ujarnya sambil tersenyum, mengajak peserta melihat baptisan sebagai keputusan iman yang sungguh-sungguh.

Selain membahas makna baptisan, Romo Dadang juga menyinggung peran penting wali baptis. Ia mengingatkan agar para calon baptis memilih wali baptis yang masih relatif muda dan mampu menjalankan tugasnya dengan sungguh. Wali baptis, menurutnya, bukan sekadar simbol atau pelengkap upacara. Mereka dipanggil menjadi orang tua rohani bagi anak baptisnya.

“Wali baptis harus meneladankan iman dan mendampingi pendidikan iman secara berkelanjutan. Ini bukan peran sosial semata, tetapi tanggung jawab rohani seumur hidup,” jelasnya.

Tugas seorang wali baptis adalah membantu dan menjaga agar cahaya Kristus dalam diri anak baptis tetap menyala sepanjang perjalanan hidupnya. Pembekalan berlangsung hangat dan dialogis. Para peserta dengan antusias mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari kehidupan iman setelah baptis hingga peran keluarga dalam menjaga pertumbuhan iman.

Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama. Senyum para calon baptis tampak merekah seakan menandai perjalanan iman yang semakin dekat pada titik penting: menerima hidup baru dalam Kristus. Hari itu, mereka benar-benar sedang menghitung hari. Menghitung hari menuju momen penuh makna ketika air baptis akan menyentuh dahi mereka, menandai lahirnya manusia baru, anak-anak Allah yang dipanggil untuk menjadi terang di tengah dunia.

Di wawancarai Komsos GMKK, Markus Wisnu Handoko, koordinator FIBB (Formasio Iman Berjenjang Berkelanjutan) dan salah satu dari katekis yang turut mendampingi para calon babtis menjelaskan bahwa proses pendampingan calon babtis ini berlangsung selama setahun. Dalam wawancara itu Wisnu juga menyampaikan harapannya dengan diselenggarakannya acara pembekalan ini.

“Semoga iman mereka sungguh terpilih dan tangguh. Panggilan mereka menjadi katolik sungguh murni dari panggilan hati mereka dan bukan karena paksaan dari orang lain,” harap lelaki yang akrap dipanggil Mas Wisnu ini,

Catatan- Liputan oleh Maria Magdalena Muji Rahayu dan foto oleh Maria Magdalena Muji Rahayu dan KOMSOS

yusupriyas

Pengajar Les Bahasa Inggris SD, SMP/SMA, mahasiswa/umum (conversation, TOEFL/IELTS), penulis buku (lebih dari 70 buku pengayakan bahasa Inggris ), profesional editor & translator, Peminat sastra dan fotografi. Bisa dikontak di 08121598358 atau yusup2011@gmail.com.

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *