“Banyak Tidak Selalu Baik, Sedikit Tidak Selalu Buruk”, demikian Yustinus Bangun Hernowo sebagai pemandu pertemuan APP pertama menyampaikan frasa tersebut saat memandu pertemuan APP. Satu kalimat yang menyadarkan umat bahwa kualitas lebih penting daripada kuantitas. Pertemuan yang diikuti sekitar lima belas umat Lingkungan St. Petrus Temanggal ini dihelat pada hari Kamis, 19 Februari 2026, dan dimulai pukul 19.00 WIB di rumah keluarga Yohanes Dwi Margo Utomo.
“Mengapa Banyak Tidak Selalu Baik?” Dalam pertemuan pertama APP dijelaskan bahwa memberi dalam jumlah besar, baik berupa uang, tenaga, maupun waktu, dapat menjadi kontraproduktif apabila tidak disertai kebijaksanaan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ketergantungan, memunculkan motif yang kurang tepat, serta membuat bantuan tidak tepat sasaran. Jika bantuan terus-menerus diberikan secara “instan” dalam jumlah banyak, penerima bantuan mungkin kehilangan motivasi untuk mandiri dan menciptakan sikap ketergantungan bagi penerima bantuan. Ini disebut sebagai toxic charity. Terkadang, pemberian dalam jumlah yang banyak bisa menjadi motif yang salah bagi pemberi. Ini yang terjadi jika bantuan diberikan demi validasi sosial atau pamer. Akhirnya justru merusak ketulusan dari tindakan menolong itu sendiri. Memberi banyak barang yang tidak dibutuhkan oleh penerima juga akan menjadi bantuan yang tidak tepat sasaran. Sehingga perlu diperhatikan pula kebutuhan calon penerima bantuan.

“Mengapa Sedikit Tidak Selalu Buruk?” Nilai dari sebuah pertolongan seringkali terletak pada ketepatan waktu dan ketulusannya, bukan nominal. Pertolongan yang terlihat kecil, seperti kata-kata penyemangat atau membukakan pintu bagi orang yang kesulitan, bisa mengubah suasana hati seseorang dan mendorong mereka untuk berbuat baik kepada orang lain. Bayangkan efek domino yang tercipta dari perbuatan baik satu individu menjadi perbuatan baik individu-individu lainnya. Pemberian, meski sedikit tetapi diberikan dengan penuh keikhlasan atau ketulusan, sering lebih menyentuh. Selain itu dapat memberi kekuatan moral kepada penerimanya jika dibanding bantuan dalam jumlah besar yang diberikan setengah hati. Pemberian yang sedikit namun konsisten dan berkelanjutan jauh lebih berdampak. Hal ini lebih baik dari memberi banyak tapi hanya sekali seumur hidup. Pertemuan berlangsung dengan antusias dan penuh perhatian dari umat yang hadir.

Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sharing dan diskusi bersama untuk melihat kondisi lingkungan, khususnya apakah terdapat keluarga prasejahtera yang perlu mendapat perhatian bersama. Pertemuan ditutup dengan ungkapan doa umat yang dipanjatkan secara bergantian sebagai wujud kepedulian dan harapan bersama. Pada akhirnya, terlepas dari banyak-sedikitnya, bantuan yang disalurkan haruslah tepat guna. Dalam arti sasaran bantuan adalah orang yang tepat dan berdampak bagi kelangsungan hidupnya. Untuk itulah pentingnya validitas data umat. Data yang akurat adalah dasar dari tepat atau tidaknya sasaran pemberian bantuan. Untuk itulah KAS (Keuskupan Agung Semarang) menggunakan sistem berbasis digital yang disebut Ecclesia. Sistem ini diharapkan mampu memberi gambaran riil terkait kondisi umat. Harapannya data yang ada dalam Ecclesia bisa digunakan sebagai dasar perencanaan gerakan dan kegiatan di seluruh lingkup KAS.

Karena itu, “Banyak tidak selalu baik, sedikit tidak selalu buruk” menjadi kalimat yang teringat kuat dalam benak umat Lingkungan St. Petrus Temanggal. Nilai dari sebuah bantuan bukan hanya dari nominalnya, melainkan dampak baik yang ditimbulkan dan tepat sasaran. Hal ini menunjukkan Gereja hadir dalam kehidupan umat. Pada akhirnya, semangat Aksi Puasa Pembangunan dengan visi ARDAS KAS, “Gereja yang berbahagia, inspiratif, dan mensejahterakan,” menjadi pemantik semangat umat di momen Prapaskah 2026 ini.
Catatan : Tulisan dan foto dikirim oleh Yohanes Dimas Nugroho



