Muntilan – Sejarah besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil. Begitu pula bagi para calon Komuni Pertama dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan berjumlah 116 anak yang baru saja melakukan perjalanan spiritual “Pulang ke Akar” pada minggu 8 Maret 2026. Mereka tidak sekadar berwisata, melainkan menapaki jejak para perintis iman di tanah Jawa, yang sering dijuluki sebagai “Betlehem-nya Indonesia”.

Muntilan: Saksi Bisu Darah dan Doa
Perjalanan dimulai di Museum Misi Muntilan. Di sini, anak-anak diajak masuk ke mesin waktu, mendengar kisah pembaptisan pertama di Sendangsono yang menjadi cikal bakal berkembangnya Gereja Katolik di Jawa.

Suasana berubah khidmat saat anak-anak mengunjungi bangunan pertama Seminari Petrus Canisius yang berdiri tahun 1912. Gedung bersejarah ini, yang kini digunakan oleh para Bruder FIC, menyimpan rahasia keberanian. Dahulu, bangunan ini menjadi tempat perlindungan bagi penduduk pribumi saat masa peperangan.
Momen paling menyentuh adalah ketika mereka melihat kamar Romo Sanjoyo. Di kamar yang sunyi itu, anak-anak mendengar kisah kemartiran beliau yang wafat dibunuh bersama romo-romo Belanda dalam sebuah peristiwa kelam. Tubuhnya ditemukan oleh ayahnya sendiri Bapak Willim—sebuah kisah pengorbanan yang membuat anak-anak terdiam, menyadari bahwa iman yang mereka pelajari sekarang dibayar dengan harga yang sangat mahal.
Perjalanan Kaki ke PPSM: Mengenal Sang Pelikan
Setelah menyerap sejarah di museum, anak-anak berjalan kaki menuju Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan (PPSM). Sambil menikmati udara Muntilan, mereka belajar mengenal lambang Keuskupan Agung Semarang (KAS) yakni Burung Pelikan.

Filosofi burung pelikan yang melukai dadanya sendiri demi memberi makan anak-anaknya menjadi pelajaran nyata tentang kasih Ekaristi yang sebentar lagi akan mereka terima. Di PPSM, kebersamaan memuncak saat mereka bersantap siang bersama, mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.
Mertoyudan: Melihat Masa Depan Gereja
Tujuan terakhir adalah Seminari Menengah St. Petrus Canisius Mertoyudan, tempat penyemaian calon-calon imam. Setibanya di sana, rombongan disambut hangat oleh Romo Emmanuel Graha Lisanta, Pr. dan 25 orang seminaris.

Bukan sekadar kunjungan formal, anak-anak diajak berdinamika dan berkeliling kompleks seminari yang megah dan asri. Mereka melihat langsung bagaimana para kakak seminaris belajar dan berdoa. Wajah-wajah penasaran terlihat saat mereka masuk ke koridor-koridor tua yang penuh sejarah.
Kunjungan diakhiri dengan suasana ceria di aula. Sambil menyantap snack sore, anak-anak bercengkerama dengan para seminaris, seolah melihat cermin masa depan—bahwa melayani Tuhan adalah sebuah petualangan yang menyenangkan.

“Hari ini kami belajar bahwa menjadi Katolik itu luar biasa. Kami punya pahlawan iman seperti Romo Sanjoyo dan kami punya masa depan seperti para seminaris di Mertoyudan,” ujar salah satu pendamping dengan mata berbinar.
Perjalanan ini mungkin berakhir, namun benih iman yang ditanam di Muntilan dan Mertoyudan akan terus tumbuh di hati para calon penerima sakramen ini, menanti saatnya mekar dalam Komuni Pertama nanti.
Catatan Foto dan liputan oleh Maria Magdalena Muji Rahayu




