Youth’s Get Up: Menyalakan Semangat Orang Muda untuk Menjadi Penggerak Gereja Masa Kini

Youth’s Get Up: Menyalakan Semangat Orang Muda untuk Menjadi Penggerak Gereja Masa Kini

Kalasan, Selasa (16 Juni 2026) – Semangat baru bagi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Maria Marganingsih Kalasan mulai dinyalakan melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Calon Pengurus OMK dengan tema besar “In You(th) We Trust”. Pertemuan pertama yang mengangkat tema “Youth’s Get Up” menjadi ruang bagi orang muda untuk bangkit, mengenal diri, membangun komunitas, serta menemukan kembali panggilan mereka sebagai bagian penting dalam kehidupan Gereja.

Kegiatan yang berlangsung di Gereja St. Yusuf Juwangen Kalasan Barat pukul 10.00–16.00 WIB ini diikuti oleh calon pengurus OMK dari berbagai wilayah Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Pendampingan ini bertujuan membentuk orang muda yang tidak hanya aktif dalam kegiatan Gereja, tetapi juga memiliki kesadaran diri, kemampuan bekerja sama, dan semangat kepemimpinan Kristiani.

Membangun Kepercayaan: Orang Muda Dipanggil untuk Bangkit

Kegiatan diawali dengan suasana penuh keakraban melalui sesi perkenalan yang dipandu oleh tim pendamping. Para peserta diajak untuk saling mengenal melalui dinamika berpasangan, berbagi cerita tentang nama, asal wilayah, dan keunikan pribadi masing-masing.

Kegiatan OMK Paroki Kalasan

Melalui proses sederhana tersebut, peserta diajak menyadari bahwa OMK bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki kesamaan usia, melainkan sebuah komunitas yang dibangun dari pribadi-pribadi unik dengan pengalaman dan talenta yang berbeda.

Kabid Pewarta dalam pengantar kegiatan menyampaikan makna dari tema “In You(th) We Trust”, yaitu sebuah keyakinan bahwa orang muda memiliki kemampuan dan potensi besar untuk menjadi penggerak kehidupan Gereja.

“Orang dewasa dan orang muda perlu membangun kepercayaan bersama bahwa gerakan orang muda dapat membawa wajah Gereja yang lebih hidup, terbuka, dan penuh harapan.”

Tahap awal dari perjalanan tersebut dimulai melalui Youth’s Get Up, sebuah ajakan bagi orang muda untuk bangkit dan berani mengambil peran.

Mengapa Kita Ada di Sini? Menemukan Makna Panggilan sebagai OMK

Sesi utama dipandu oleh fasilitator Bapak Tribroto Cawu yang mengajak peserta menggali pertanyaan mendasar:

“Mengapa kita berada di sini dan apa pentingnya kehadiran kita bagi OMK?”

Melalui diskusi kelompok, peserta menemukan berbagai alasan kehadiran mereka. Ada yang datang karena ingin mengenal OMK lebih dekat, ada yang ingin membangun komunitas orang muda di paroki, dan ada pula yang datang karena mendapat ajakan dari pengurus wilayah.

Diskusi Orang Muda Katolik di Paroki Kalasan

Menurut fasilitator, jawaban “karena disuruh” justru menjadi sebuah kejujuran yang penting untuk direnungkan.

“Yang paling jujur adalah ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya datang karena disuruh. Tetapi setelah berada di sini, pertanyaannya berubah: apa yang saya temukan, apa dampaknya bagi diri saya, dan bagaimana saya akan mengambil bagian?”

Peserta kemudian diajak mengenal konsep transformative leader, yaitu pemimpin yang tidak hanya aktif bergerak, tetapi juga mampu berefleksi dan memahami alasan dari setiap tindakan.

Seorang pemimpin, menurut fasilitator, pertama-tama harus memiliki orang yang dipimpin. Hal ini kemudian dikaitkan dengan teladan Yesus yang mengajak para murid-Nya.

“Yesus tidak menunggu orang datang kepada-Nya. Ia mengajak Simon Petrus dan murid-murid lainnya. Menjadi pemimpin OMK berarti memiliki keberanian untuk mengajak, merangkul, dan membuka ruang bagi orang lain.”

Peserta diajak melihat bahwa perkembangan OMK dimulai dari keberanian setiap pribadi untuk mengundang dan merangkul.

Jika hari ini ada 20 orang yang hadir, maka dengan semangat mengajak satu orang saja, gerakan tersebut dapat terus bertumbuh.

Mengenal Diri: Setiap Orang Muda Berharga dan Unik

OMK Kalasan semangat menggereja

Dalam sesi Aku Berharga, Aku Dipanggil, peserta diajak mengenali nilai diri masing-masing.

Peserta melakukan refleksi pribadi dengan menjawab beberapa pertanyaan:

  • Bagaimana saya menggambarkan diri saya saat ini?
  • Bagaimana diri saya tahun lalu?
  • Bagaimana orang lain melihat diri saya?

Setiap peserta kemudian memilih lima nilai yang menggambarkan dirinya, seperti loyalitas, kreativitas, penerimaan, persahabatan, empati, iman, tanggung jawab, dan berbagai nilai positif lainnya.

Salah satu peserta, Galuh, membagikan refleksinya:

“Saya memilih loyalitas karena saya berusaha memberikan yang terbaik kepada siapa pun. Saya juga memilih kesenian karena menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Penerimaan dan persahabatan menjadi nilai penting karena saya ingin membangun relasi yang baik dengan orang lain.”

Melalui refleksi tersebut, peserta semakin menyadari bahwa setiap pribadi membawa kekuatan dan keunikan yang dapat menjadi berkat bagi komunitas.

Berbeda Karakter, Saling Melengkapi dalam Komunitas

Sesi berikutnya mengajak peserta memahami karakter pribadi melalui pendekatan kepribadian. Peserta belajar mengenali empat kecenderungan karakter:

  1. Sanguinis – pribadi yang penuh semangat, mudah bergaul, komunikatif, dan membawa keceriaan.
  2. Koleris – pribadi yang kuat, berorientasi tujuan, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
  3. Melankolis – pribadi yang teliti, teratur, dan memperhatikan proses.
  4. Plegmatis – pribadi yang membawa kedamaian, mampu mendengarkan, dan menjaga hubungan.

Dalam dinamika kelompok, peserta menemukan bahwa tidak ada karakter yang lebih baik daripada karakter lainnya.

Perbedaan justru menjadi kekuatan dalam sebuah organisasi.

“Dalam OMK dibutuhkan orang yang mampu menggerakkan, orang yang menyusun rencana, orang yang memperhatikan proses, dan orang yang menjaga keharmonisan. Semua karakter memiliki perannya masing-masing.”

Kesadaran tersebut menjadi bekal penting bagi calon pengurus OMK agar mampu bekerja sama dengan berbagai pribadi dan membangun komunitas yang inklusif.

OMK paroki Kalasan

OMK sebagai Komunitas Iman: Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan

Pada sesi akhir, peserta berdiskusi mengenai gambaran Gereja yang diimpikan serta peran OMK di dalamnya.

Beberapa gagasan yang muncul antara lain:

  • Gereja yang mau mendengarkan suara umat dan membuka ruang partisipasi.
  • Gereja yang menghadirkan sukacita dan kebersamaan.
  • Gereja yang mampu merangkul orang muda yang belum terlibat.
  • OMK menjadi komunitas yang membangun persaudaraan dan mengajak semakin banyak orang muda terlibat.

Peserta menyadari bahwa OMK berbeda dengan organisasi biasa. OMK bukan hanya tempat berkegiatan, tetapi komunitas iman yang dipanggil untuk menghadirkan kasih Kristus melalui pelayanan dan persaudaraan.

Langkah Awal Menuju OMK yang Bertumbuh

Youth's Get up OMK Kalasan

Melalui pertemuan pertama ini, calon pengurus OMK Maria Marganingsih Kalasan diajak untuk memulai perjalanan dari tiga langkah penting:

  1. Mengenal diri sendiri.
  2. Mengenal sesama.
  3. Membangun kesamaan visi sebagai komunitas iman.

Pertemuan pertama Youth’s Get Up menjadi fondasi awal untuk membentuk pengurus OMK yang mampu menjadi pemimpin muda yang reflektif, terbuka, dan siap melayani.

Sebelum mengakhiri kegiatan, peserta mendapatkan tugas untuk mulai mempraktikkan teladan Yesus dalam mengajak orang lain bergabung dalam komunitas OMK serta melakukan refleksi mengenai kondisi OMK saat ini.

Karena perubahan besar dalam Gereja sering kali dimulai dari langkah kecil orang muda yang berani berkata:

“Aku dipercaya, aku dipanggil, dan aku siap bangkit untuk menjadi bagian dari karya Tuhan.”

In You(th) We Trust — karena melalui orang muda, Gereja menemukan wajah harapan masa depan.

Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu

Sutanto Prabowo

Father, Teacher, Blogger, Duta Damai BNPT, Indonesia Local Guide, member Komunitas Blogger Jogja, blog : https://maswo.my.id

Learn More →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *