Minggu, 21 September 2025 di Gereja Santo Ignatius Temanggal terasa berbeda. Sejak pukul 08.30, halaman dan sayap timur gereja sudah ramai dipenuhi suara tawa dan celoteh anak-anak usia dini. Ada sekitar 40 anak yang hadir, didampingi orang tua mereka, untuk mengikuti Lomba Kolase dalam rangka Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 yang diselenggarakan oleh Tim Pelayanan Pendampingan Iman Anak Usia Dini (PIUD) Paroki Maria Marganingsih Kalasan.
Suasana semakin meriah karena panitia menyambut para peserta dengan penuh semangat. Kakak-kakak panitia mengenakan aksesori lucu yang langsung mencuri perhatian anak-anak. Setiap peserta yang mendaftar kemudian menerima goodie bag berisi tumbler, mystery box, snack, hingga uang-uangan khusus. Uang-uangan ini menjadi “alat tukar” untuk membeli bahan tambahan kolase, sehingga sejak awal anak-anak sudah dibawa ke dalam pengalaman bermain yang kreatif.
Awal yang Hangat
Acara dibuka di sayap timur gereja. Dua MC kembar, Kak Vira dan Kak Vita, memandu jalannya acara dengan penuh keceriaan. Doa pembuka dipimpin oleh Bu Yuni, yang mengajak semua peserta mengawali kegiatan dengan syukur dan semangat iman.
Sambutan kemudian disampaikan oleh Kak Dimas selaku Ketua Panitia. Ia mengingatkan kembali tema BKSN 2025: “Allah Sumber Pembaruan Relasi dalam Hidup.” Dengan bahasa sederhana, Kak Dimas menghubungkan lomba kolase dengan kehidupan sehari-hari: “Kolase itu potongan-potongan gambar yang disatukan jadi karya indah. Sama seperti hidup kita: ada potongan kecil, besar, rapi, atau berantakan. Tetapi Allah selalu menyatukan kita dengan kasih-Nya. Hari ini kita belajar bahwa Allah adalah sumber semangat baru, yang membuat kita bisa rukun dengan diri sendiri, sayang sama keluarga, dan dekat dengan Tuhan.”
Bu Anik, Kepala Bidang Pewartaan Paroki Kalasan, juga menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pendalaman iman sejak usia dini. “Anak-anak perlu diberi kesempatan mengenal imannya lewat cara yang menyenangkan. Maka kami juga mengajak para orang tua untuk membiarkan anak-anak berkreasi sendiri, cukup mendampingi dan mengarahkan,” pesannya.
Saatnya Berkreasi
Lomba dibagi dalam dua kategori: Kategori A untuk anak usia 2–3 tahun dan Kategori B untuk usia 4–5 tahun. Setelah mendapat lembar kerja bergambar, anak-anak mulai menempelkan bahan kolase seperti biji-bijian, dedaunan kering, potongan kertas warna-warni, hingga bahan tambahan yang mereka “beli” dengan uang-uangan dari goodie bag.
Pemandangan yang terlihat begitu indah: tangan-tangan mungil yang sibuk menempel, beberapa dengan serius, ada yang bercampur tawa, dan ada pula yang sesekali meminta bantuan orang tuanya. Semua berbaur dalam suasana riang.
Para juri lomba kolase Elyzabeth Maryani, Markus Wisnu Handoko, dan Carolina Titik Widayati berkeliling sambil sesekali tersenyum melihat kreativitas polos namun penuh makna dari anak-anak PIUD.

Lebih dari Lomba
Setelah lomba selesai, anak-anak tidak langsung pulang. Mereka diajak berpindah ke sayap barat gereja untuk makan siang bersama. Di sana, suasana kembali meriah dengan kegiatan membuat mainan dari clay, bernyanyi, dan menari bersama. Meskipun matahari siang cukup terik, semangat anak-anak tetap membara terutama saat menunggu pengumuman pemenang lomba.

Para Juara
Kategori A (usia 2–3 tahun)
- Mattea Reyna Sagara Sadewa – Lingk. St. Thomas, Wil. Aloysius Gonzaga
- Ken – Lingk. St. Lukas, Wil. St. Petrus Kanisius
- Julia Geya Gistara Paradista – St. Perawan Maria, Wil. Agatha
Kategori B (usia 4–5 tahun) - Gabriella Vicka Laurensia – Lingk. St. Perawan Maria, Wil. Agatha
- Gemma Zalina Prasetya – Lingk. St. Andreas, Wil. Aloysius Gonzaga
- Valea – Lingk. St. Paulus, Wil. Yohanes De Britto
Para pemenang menerima piala, piagam penghargaan, dan hadiah menarik. Namun, semua anak sejatinya adalah pemenang. Mereka pulang dengan wajah ceria, membawa balon warna-warni sebagai kenang-kenangan sekaligus simbol sukacita. Acara ditutup dengan doa bersama, foto kenangan, serta ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung.


Lomba Kolase PIUD 2025 bukan hanya ajang kreativitas, tetapi sebuah perjalanan iman kecil yang penuh warna. Dari potongan kertas, dedaunan, hingga biji-bijian, anak-anak belajar bahwa hidup pun tersusun dari banyak bagian yang Allah satukan dengan kasih-Nya. Mereka belajar untuk berani mencoba, berkreasi tanpa takut salah, dan merasakan bahwa setiap karya kecil maupun besar itu berharga di mata Tuhan. Lebih dari sekadar lomba, kegiatan ini menjadi pengalaman iman yang menanamkan sukacita Injil dalam hati anak-anak sejak dini.
Semoga anak-anak PIUD kita terus bertumbuh sebagai pribadi yang penuh kasih, kreatif, dan berakar dalam Kristus, Sang Sumber Hidup. Dari tangan-tangan mungil mereka, kita belajar bahwa iman bisa sederhana, ceria, sekaligus mendalam.

Penulis : Ines – Pendamping PIUD GMMK




