Menemukan Panggilan di Tengah Luka Kehidupan

Minggu Panggilan

Suasana berbeda terasa di Paroki Maria Marganingsih Kalasan pada perayaan Minggu Panggilan yang berlangsung selama dua hari, 25–26 April 2026. Tidak hanya menghadirkan semangat promosi panggilan hidup membiara, kegiatan ini juga menjadi ruang pendampingan kaum muda melalui talkshow kesehatan mental bertajuk “Broken but Blessed, Tuhan tetap bekerja di tengah luka” yang digelar pada Minggu, 3 Mei 2026.

Delapan Kongregasi Ramaikan Stand Panggilan

Perayaan Minggu Panggilan dilaksanakan di lingkungan Gereja Paroki Maria Marganingsih Kalasan dengan menghadirkan delapan stand pameran panggilan yang berjajar di area pintu masuk gereja. Stand tersebut diisi oleh para biarawan dan biarawati dari kongregasi Bruder CSA, Suster RMI, OP, SSpS, SPC, ALMA, CB, dan SFD.

Melalui stand-stand tersebut, umat diajak mengenal lebih dekat kehidupan membiara, karya pelayanan, spiritualitas, hingga pengalaman panggilan dari masing-masing tarekat. Banyak umat, terutama Orang Muda Katolik (OMK), tampak antusias berdialog langsung dengan para suster dan bruder.

Tidak berhenti pada pameran panggilan, panitia juga mengadakan sesi sharing panggilan di beberapa gereja wilayah. Di Gereja Kalasan, sharing diisi oleh Suster RMI, SFD, Bruder CSA, dan SSpS. Sementara di Gereja Wilayah Santa Maria Kalbar hadir Suster CB, di Stasi Santo Yusuf Berbah bersama Suster SPC, dan di Wilayah Santo Ignatius Kalasan Tengah diisi oleh para suster OP.

Berawal dari Kegelisahan Kaum Muda

Satu minggu setelah Minggu Panggilan, panitia melanjutkan rangkaian kegiatan dengan mengadakan talkshow kesehatan mental bagi kaum muda pada Minggu, 3 Mei 2026, di Gereja Wilayah Santo Ignatius Kalasan Tengah.

Talkshow ini lahir dari hasil rapat panitia Minggu Panggilan yang menanggapi data baseline survei OMK. Dari survei tersebut ditemukan bahwa 40,2% responden pernah mengalami paparan kekerasan, sementara 29,8% memilih memendam stres sebagai cara menghadapi masalah.

Karena itu, panitia merasa perlu menghadirkan ruang aman bagi kaum muda untuk berbicara tentang luka batin, kesehatan mental, dan pencarian jati diri dalam terang iman Katolik.

Broken but Blessed”: Tuhan Tetap Bekerja di Tengah Luka

Talkshow bertema “Broken but Blessed, Tuhan tetap bekerja di tengah luka” menghadirkan dua narasumber, yakni Romo Jo Christian Munthe SCJ dan Sr. Hedwid Widiastuti CB, dengan moderator Tirza Yoga.

Kegiatan ini diikuti 78 kaum muda serta didukung kehadiran 54 suster dan bruder. Acara juga dimeriahkan oleh delapan personel Dinera Band dari OMK Kalasan Tengah.

Sejak pukul 09.00 WIB, peserta mulai berdatangan dan disambut hangat oleh para suster dan teman-teman muda. Acara dibuka dengan lagu-lagu penuh semangat dari Dinera Band yang membuat suasana semakin hidup dan akrab.

Dalam sesi sharing, Sr. Hedwid CB dengan jujur membagikan kisah masa remajanya yang juga pernah mengalami luka dari keluarga maupun relasi pertemanan. Kesaksian itu membuat banyak peserta merasa dekat dan tidak sendirian menghadapi pergumulan hidup.

Sementara itu, Romo Jo Christian Munthe SCJ mengajak kaum muda untuk belajar mencintai diri sendiri atau self love. Menurutnya, mengenali dan menerima diri menjadi langkah penting untuk bertumbuh secara sehat, baik secara emosional maupun rohani.

Tangis, Tawa, dan Ruang Aman untuk Berbagi

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dan mendalam. Beberapa peserta bertanya tentang perasaan yang labil, cara membangun self love, hingga pergulatan panggilan hidup membiara namun masih diliputi keraguan untuk menjawabnya.

Momen yang paling dinanti adalah sesi Focus Group Discussion (FGD). Dalam kelompok kecil, setiap suster mendampingi dua kaum muda untuk berbagi pengalaman hidup secara lebih personal. Mereka memilih tempat masing-masing untuk berdialog dan saling mendengarkan.

Dinamika kelompok terasa sangat beragam. Ada yang berbicara serius hingga menitikkan air mata, ada yang tertawa lega setelah berbagi cerita, dan ada pula yang memilih diam sambil merenung. Namun di tengah perbedaan itu, semua merasakan hadirnya ruang aman dan penuh penerimaan.

Tidak terasa waktu berjalan hingga pukul 14.30 WIB. Sebelum acara ditutup, Romo Jo berpesan bahwa iman perlu terus disegarkan dengan belajar hidup konsisten dan konsekuen. Sr. Hedwid juga membagikan tips sederhana untuk mengelola hidup, mulai dari membuat skala prioritas masalah, mengenali diri sendiri, hingga belajar manajemen waktu. Melalui rangkaian Minggu Panggilan dan talkshow kesehatan mental ini, Paroki Maria Marganingsih Kalasan tidak hanya mengajak kaum muda mengenal panggilan hidup, tetapi juga mendampingi mereka untuk bertumbuh sebagai pribadi yang utuh—berani menghadapi luka, mengenal diri, dan percaya bahwa Tuhan tetap bekerja di tengah setiap pergumulan hidup.

Ditulis dan dilaporkan oleh : Maria Magdalena Muji Rahayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *