Kalasan, 12 Mei 2025 – Gereja St. Yusup Juwangen menjadi tempat bersejarah bagi sebuah peristiwa penuh makna dalam formasi iman remaja Katolik: Sarasehan Udar Prasangka Lintas Agama, yang diselenggarakan oleh Tim Pelaksana Inisiasi Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam pendampingan Sakramen Penguatan sebagai wujud dewasa dalam iman dan menjadi saksi Kristus, yang diikuti oleh 274 remaja Katolik usia 13–18 tahun.


Mengangkat tema “Remaja Katolik Menabur Kasih, Membangun Damai dalam Perbedaan”, acara ini menjadi ruang dialog terbuka dan inspiratif yang aman bagi para remaja untuk mengudar prasangka, memahami keberagaman, serta memperkuat identitas sebagai saksi Kristus pembawa damai.
Narasumber Lintas agama: Suara Damai dari Berbagai Keyakinan, kehadiran 29 narasumber dari Srikandi Lintas Iman dan jejaringnya menjadi kekuatan utama dalam sarasehan ini. Mereka adalah representasi dari berbagai latar belakang kepercayaan dan agama:
- Islam NU dan Muhammadiyah
- Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
- Perempuan bercadar
- Hindu
- Buddha
- Konghucu
- Aliran Kepercayaan
- Kristen Protestan
Mereka tidak hanya hadir sebagai pembicara, tetapi sebagai wajah-wajah perdamaian, yang menyampaikan pesan kasih, toleransi, dan persaudaraan sejati.


Dalam sesi sarasehan interaktif para narasumber membagikan pengalaman hidup mereka dalam membangun relasi lintas iman, mengatasi stereotip, dan menjawab tantangan hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang kompleks.
Diskusi Kelompok: Suara Remaja yang Ingin Didengar, Setelah sesi utama, para peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk berdiskusi secara nyaman dan aman. Fasilitator mendorong suasana yang terbuka sehingga para remaja dapat menyampaikan kegundahan hati, pengalaman pribadi, dan pertanyaan-pertanyaan mendalam seputar perjumpaan dengan perbedaan dan tantangan hidup dalam keberagaman, mereka menulis dalam sticknote yang dibagi apa saja yang menjadi kegundahan.


Salah satu peserta, Aby (15 tahun), mengatakan, “Saya senang karena bisa bicara jujur dan merasa diterima. Ternyata teman-teman dari agama lain juga punya keresahan yang mirip. Kita bisa belajar saling memahami.”
Doa Lintas Iman dan Simbol Perdamaian, kegiatan ditutup dengan doa bersama dari perwakilan lintas agama, dilakukan dalam keheningan dan saling menghormati, menjadi simbol kuat dari persaudaraan sejati. Momen ini membawa suasana haru dan harapan baru bagi semua yang hadir.
Sebagai tanda komitmen untuk menjadi pembawa damai, setiap peserta menerima “gelang perdamaian”yang dikenakan sebagai simbol harapan, persatuan, dan panggilan untuk terus membangun jembatan kasih dalam kehidupan sehari-hari.


Remaja Katolik: Siap Diutus Menjadi Jembatan Kasih, kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menginspirasi para remaja Katolik untuk menjadi pribadi yang dewasa dalam iman dan cinta damai. Dalam Sakramen Penguatan yang akan mereka terima, Roh Kudus diharapkan menguatkan mereka untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa terang, pengampunan, dan kasih sejati.
Seorang narasumber dari kalangan Konghucu menutup pesannya dengan berkata, “Jembatan kasih hanya bisa dibangun jika ada hati yang terbuka. Dan hari ini, saya melihat banyak hati yang mulai terbuka.”


Kegiatan Udar Prasangka Lintas Agama telah menjadi langkah konkret Gereja dalam mendampingi kaum muda Katolik agar menjadi pribadi yang relevan dan penuh kasih dalam dunia yang penuh tantangan. Karena menjadi Katolik berarti berani diutus untuk mencintai, bukan menghakimi; untuk merangkul, bukan menyingkirkan.
Ditulis oleh: Timpel Inisiasi Paroki Kalasan




