Perayaan Kamis Putih di gereja Maria Marganingsih Kalasan dilaksanakan pada hari Kamis, 2 April 2026 pukul 17.00. Perayaan Kamis Putih ini dipimpin oleh Romo Simon Cipto Suwarno S.J.

Romo Jesuit yang lebih akrab dipanggil Romo Cipto ini mengawali kotbahnya dengan mengungkapkan hal yang mendalam tentang makna kenangan akan masa lalu berdasarkan bacaan pertama dari kitab Keluaran pasal 12. Kenangan akan masa lalu bisa menimbulkan kerinduan dalam kehidupan. Namun, kenangan masa lalu juga bisa menjadi peringatan bahwa Allah memulai karya baik di dalam hati manusia. Kenangan masa lalu saja tidak banyak maknanya. Tetapi mengenangkan masa lalu untuk diperjuangkan dan diperbaharui, itulah yang berarti.

Sedangkan bacaan kedua yang diambil dari Surat 1 Rasul Paulus kepada umat di Korintus pasal 11 berbicara tentang ekaristi sebagai kenangan. Apa yang terjadi dalam diri Yesus dan para murid menjelang akhir hidup Yesus diingat kembali. Ekaristi juga menjadi peringatan kepada para murid untuk mengamalkan hidup mereka sebagaimana yang dilakukan Yesus. Ekaristi juga merupakan ucapan syukur kapada Allah yang telah menuntun kehidupan manusia.
Romo Jesuit yang lama bertugas di tanah Papua ini juga menjelaskan bahwa perhatian utama Injil Yohanes yang dibacakan dalam perayaan ekaristi Kamis Putih terpusat pada diri Yesus yang dengan penuh ketenangan dan kesadaran menghadapi penderitaan. Yesus melakukan sebuah tindakan kenabian yakni pembasuhan kaki yang sebenarnya secara tradisi lebih sering dilakukan oleh para budak kepada tuannya. Yang menarik, kisah pembasuhan kaki ini hanya ditulis oleh Yohanes ini.

Yang mendapatkan perhatian khusus dan utama dalam pewartaan injil hari ini adalah pribadi Yesus sendiri meskipun ada 2 tokoh lain yang menarik untuk dibahas yakni Yudas Iskariot dan Simon Petrus. Yudas Iskariot yang telah kerasukan roh jahat telah merencanakan pengkhianatan terhadap Yesus. Kasih Yesus yang murni tidak luput dari pengkhiatan, dan pengkhianatan itu justru datang dari orang dalam. Sedangkan, Simon Petrus adalah sosok yang percaya dengan kekuatannya sendiri dan sering kali “sembrono” dan ini membawanya kepada pengalaman pahit. Meskipun demikian, Petrus masih mau setia mengarahkan hidupnya dengan jalan kebersamaan dengan Yesus dan arah inilah yang membawanya kepada keselamatan.

Yesus dalam pesta perpisahan ini tidak meninggalkan pesan dengan pidato panjang namun meninggalkan peringatan cinta kasih dalam suatu tindakan nyata yakni pembasuhan kaki kepada murid-muridNya. Dengan demikian para rasul mempunyai semacam miniatur tindakan cinta kasih dalam perhatian terhadap sesama.

Renungan malam ini juga memperhatikan pelayanan kasih yang mestinya dikembangkan oleh para murid. Pelayanan kasih mensyaratkan kerendahan hati dan penyesuaian terhadap yang dilayani supaya orang dapat menemukan kepenuhan hidup yang sejati. Pelayanan kasih dengan membasuh kaki para murid menjadi tanda kasih Yesus secara nyata. Ini menjadi dimensi dan perpektif pelayanan para murid Yesus yang akan datang.
Berikut Link dokumentasinya :
Dokumentasi Kamis Putih Pukul 17:00



